
Bab I
Menghindari Kesesatan Hidup Beragama,Meraih kebahagiaan sejati
[ A L - M U N Q IDT M I N A D - DHOLA L ]
JUDUL ASLI:A L – M U N Q IDT M I N A D – DHOLA L
PENGARANG:IMAM ALGHAZALI
PENTERJEMAH:MUHAMMAD HILMAN ANSHARY
Bismillahirrahmanirrahim
P E N G A N T A R
Segala puji dan syukur kepada Allah yang dengan memuji-Nya akan
terbuka segala pemahaman tentang tulisan dan perkataan. Shalawat dan
salam bagi Nabi Muhammad al-Mustafa , pemilik Nubuwwah, dan pemilik
Risalah (kerasulan), beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya yang
telah memperoleh petunjuk dengan terhindar dari kesesatan.
Saudaraku seiman dan seagama! Dahulu engkau pernah memintaku untuk
menguraikan kepadamu tentang puncak dan rahasia-rahasia disiplin ilmu,
belenggu mazhab-mazhab dan lubang gelapnya. Menceritakan pengalaman yang
pernah aku alami tentang kebenaran yang haq di tengah malang
melintangya sekte agama dan perbedaan pendapat. Juga cara-cara yang aku
gunakan untuk bisa keluar dari jurang taklid dan mampu melewati bukit
terjal pentafsiran. Pertama bagaimana aku bisa memberdayakan ilmu kalam
(teologi), kedua mampu menyiasati doktrin-doktrin Ahl at–Ta‘lim
(penganut doktrin mahdisme dari aliran Syi‘ah Bathiniyyah) yang
membatasi proses penemuan kebenaran dengan hanya bertumpu kepada seorang
Imam (yang Ma‘sum), ketiga, mampu menepiskan cara-cara berfilsafat, dan
keempat justru aku memilih jalan tasawwuf. Energi apa yang bisa
dihasilkan dari penelitian panjang yang kulakukan yang berkaitan dengan
peranan makhluk dalam mencari intisari kebenaran?, strategiku dalam
menyebarkan ilmu di Baghdad dengan jumlah murid yang banyak, serta
motifasi apa yang mendorongku untuk kembali ke Naysabur setelah lama
meninggalkannya?. Maka, pada kesempatan ini, aku berinisiatif untuk
menjawab pertanyaan mengingat ketulusan keinginan yang begitu membara.
Aku memohon pertolongan dari Allah dan berserah kepada-Nya, memohon
kekuatan dan bersimpuh di hadapan-Nya seraya meminta perlindungan-Nya.
Ketahuilah saudara-saudaraku seiman dan seagama!, semoga Allah
berkenan membimbingmu sebaik-baiknya. Keragaman agama dan kepercayaan
(millah) di antara makhluk, dan adanya perbedaan pendapat dikalangan
para ulama yang melahirkan banyaknya sekte dan cara yang beragama. Hal
ini seumpama sebuah samudra lautan dalam yang menenggelamkan banyak
orang, dan hanya sedikit saja yang mampu selamat dari gulungan ombaknya.
Sehingga setiap kelompok dan sekte mengklaim diri sebagai ‘yang
selamat’. Allah berfirman:
“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (Q.S. ar-Rum [30]: 32).
Inilah kebenaran perkataan Rasulullah yang telah dijanjikan kepada kita. Dalam hal ini, beliau bersabda:
“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, dan yang selamat hanya satu”.
Sejak memasuki usia remaja hingga umurku lebih dari 50 tahun, aku
masih tetap bersemangat untuk menjelajahi kedalaman samudera yang sangat
dalam ini, menyelami dasarnya dengan penuh keberanian seperti seorang
penyelam yang tidak sedikit pun merasa takut. Kumasuki setiap sisi
gelapnya, kuterjang setiap kesulitannya, dan kubolak-balik setiap
masalahannya. Kukaji semua doktrin dari masing-masing golongan dan
kusingkap rahasia-rahasia mazhab mereka demi membedakan antara yang hak
dan yang bathil, yang sunnah dan yang bid‘ah Aku tidak meninggalkan
seorang penganut batiniyyah sebelum mengungkap terlebih dahulu pemahaman
kebatinannya. Tidak pula kutinggalkan seorang Zahiri sebelum mengetahui
kedalaman ke-Zahiri-annya. Begitu juga aku tidak akan meninggalkan
seorang filsuf sebelum aku menyelami kedalaman filsafatnya, seorang ahli
kalam sebelum menyingkap teori kalam dan pola perdebatannya, seorang
sufi sebelum aku menelusuri rahasia kesufiannya, seorang ahli ibadah
sebelum mengetahui hasil dari ibadahnya, serta tidak akan kutinggalkan
seorang Zindiq yang melalaikan agama kecuali aku telah membongkar dan
mengetahui latar belakangnya dalam berlaku Zindiq.
Semangat yang menggelora untuk menyelam sampai dasar hakikat segala
sesuatu merupakan kebiasaanku sejak kecil. Sebagai sebuah sifat dasar
dan sikap naluriah yang telah dianugerahkan Allah ke dalam tabi‘atku.
Bukan pilihan atau pun alasan buatku, sehingga terungkap segala belenggu
taklid dalam diriku dan pecah pula dogma-dogma warisan anak kecil
sebagai manusia yang secara turun temurun menjadikanku seorang muslim.
Sebagaimana Nasrani danYahudi yang pasti akan tumbuh pula menjadi
pengikut Nasrani dan Yahudi. Tatkala mendengar sabda Rasulullah saw yang
menyatakan bahwa:
”Setiap anak terlahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian orang
tuanyalah yang membentuknya menjadi seorang Yahudi, Nasrani, atau pun
Majusi,”
Maka hatiku tergerak untuk berupaya menyingkap hakikat tentang fitrah
asli dan hakikat dogma warisan orang tua dan para guru, memilah-milah
diantara tradisi-tradisi ini, terutama mengenai aneka macam doktrin, dan
memisahkan yang benar dari yang batil pada tradisi-tradisi tersebut.
Oleh karena itu, selalu kutegaskan pada diriku bahwa:
“Aku sangat membutuhkan ilmu tentang hakikat segala perkara. Oleh
karenanya, aku harus segera mencari tentang hakikat ‘ilmu’ itu sendiri.
Kemudian tampak olehku bahwa ilmu yakin-lah yang bisa menguak
pengetahuan secara sempurna tanpa menyisakan keraguan sedikit pun. Juga
tidak disertai kemungkinan adanya kekeliruan dan kelemahan, dan
menampakan kebatilannya. Seperti menyulap batu menjadi emas dan tongkat,
maka tidak akan melahirkan keraguan dan pengingkaran.
Dengan demikian, ketika aku tahu persis bahwa 10 lebih banyak dari
pada 3, kemudian ada orang yang berkata: “tidak, 3-lah yang lebih
banyak. Buktinya aku bisa mengubah tongkat ini menjadi ular”, dan untuk
kemudian ia benar-benar mengubahnya menjadi ular didepan mataku. Maka
hal itu tetap tidak akan membuatkku ragu pada pengetahuanku bahwa 10
lebih banyak dari pada 3. Hanya saja aku akan terheran-heran bagaimana
ia mampu melakukannya. Dan aku sama sekali tidak akan meragukan apa-apa
yang telah aku pelajari.
Selanjutnya, kemudian aku menyimpulkan bahwa setiap hal yang tidak
aku pelajari dengan cara seperti ini dan tidak aku yakini dengan
keyakinan penuh seperti yang telah disebutkan, maka landasan ilmu itu
tidak akan kuat dan tidak pula aman bersamanya. Dan segala ilmu yang
tidak memiliki unsur pengaman (dari segala keraguan dan kekeliruan ),
maka ilmu tersebut bukanlah ilmu yakin.
PINTU-PINTU BERFIKIR SESAT DAN SIKAP ANTI ILMU
Aku menyusuri dan memeriksa ilmu-ilmu yang kumiliki, ternyata diriku
jauh dari memiliki ilmu yakin, kecuali dalam ilmu inderawi dan esensial.
Oleh karena itu, kutegaskan pada diriku bahwa, “setelah mendapatkan
pesimisme, tiada lagi ambisi untuk mengupas segala permasalahan, kecuali
yang hanya berkaitan dengan jaliyyat, yaitu disiplin ilmu inderawi dan
esensial. Oleh karena itu, mau tidak mau, terlebih dahulu aku harus
meyakini kepercayaanku terhadap segala yang diindera dan dibayangkan
supaya terhindar dari kesalahan yang fatal. Apakah ia termasuk dari
jenis angan-angan yang sudah ada dalam tradisi, atau termasuk dari jenis
pengamatan harapan kebanyakan makhluk , ataukah ia termasuk dalam angan
yang pasti terwujud tanpa petaka dan kesalahan lagi?. Aku berusaha
keras merenungi ilmu inderawi dan esensial, hingga kuselidiki apakah aku
bisa meragukan diriku sendiri di dalamnya? Keraguanku yang panjang ini
berujung pada satu kesimpulan bahwa aku tidak boleh merasa aman hanya
dengan ilmu inderawi saja.
Keraguan ini pun semakin menguat, sehingga muncul pertanyaan:
“Dari mana asal munculnya keyakinan terhadap mahsusat (yang bisa
diindera)? Dan betulkah penglihatan adalah indera yang paling kuat?
Dimana ketika kamu melihat suatu bayangan, kamu melihatnya seolah
terdiam, dan tidak bergerak sama sekali. Namun dengan pengalaman dan
penyaksian pada beberapa waktu kemudian, ternyata indera terkuat itu
baru menyadari bahwa bayangan tersebut bergerak, meskipun ia tidak
bergerak sekaligus, melainkan secara bertahap, partikel demi partikel.
Sehingga ia tidak memiliki posisi berhenti. Pun ketika mata melihat
semesta bintang, ia melihatnya kecil-kecil seukuran mata uang, padahal
bukti-bukti ilmu pengetahuan menunjukan bahwa bintang-bintang itu lebih
besar ukurannya daripada bumi. Pernyataan ini juga berlaku pada
penginderaan yang lebih dikendalikan oleh hukum indera dan disangkal
oleh hukum akal dengan sangkalan yang tidak menyisakan jalan membela
diri lagi.
Dengan kenyataan di atas, aku lantas menggugurkan segala keyakinanku
akan mahsusat (hal-hal yang bisa diindera), kecuali pada hal-hal yang
rasional yang tidak terbantahkan kebenarannya. Sebagaimana perkataan
bahwa 10 lebih banyak dari pada 3; penyangkalan dan penetapan tidak
mungkin berkumpul dalam satu obyek. Sesuatu tidak mungkin baru namun
sekaligus kuno. Sesuatu tidak mungkin ada dan pada saat bersamaan
menjadi tiada. Dan sesuatu tidak mungkin wajib adanya namun juga
sekaligus mustahil adanya. Namun demikian, kaum penganut famam material
akan bertanya, ”dengan apa kamu berani menjamin bahwa keyakinanmu akan
ilmu akal rasional tidak akan senasib dengan keyakinanmu akan ilmu
material. Taruhlah umpamanya, kamu mempercayai kebenaranku, tapi vonis
akal mengatakan bahwa aku berdusta. Jika tidak ada keputusan dari vonis
akal, akankah engkau masih tetap mempercayaiku? Bukankah mungkin saja
ada pemutus (hakim) lain selain akal yang justru akan membatalkan vonis
akal, sebagaimana pembatalan hukum inderawi pada saat sebelumnya
setelah kedatangan akal. Dan tidak adanya pengetahuan tentang itu, bukan
berarti menunjukan kemustahilan terjadinya!.
Sejenak diriku terdiam tidak mampu menjawab, dan masalah ini semakin
terasa sulit ketika mereka kembali berkata dengan menggunakan
argumentasi mimpi, yaitu bahwa:
” Bukankah dalam tidurmu kamu sempat meyakini beberapa hal,
mengkhayalkan beberapa hal, bahkan meyakininya sebagai suatu yang telah
kokoh dan mantap tanpa kamu ragukan lagi, namun setelah bangun, kamu
menyadari bahwa semua khayalan dan keyakinanmu dalam mimpi itu tidak
berdasar dan tidak berguna. Maka, bagaimana kamu bisa menjamin bahwa
semua yang kamu yakini dalam kesadaranmu dengan indera atau akal adalah
kebenaran yang nyata pada saat kondisi kamu seperti sekarang ini. Bahkan
bisa jadi muncul suatu kondisi dimana “posisi” kesadaranmu saat terjaga
layaknya kesadaranmu di saat mimpi, maka dengan demikian bukankah
kesadaranmu menjadi seperti mimpi? Dan ketika kondisi ini terjadi, kamu
meyakini bahwa semua hal yang kamu duga dengan akalmu hanyalah khayalan
belaka. Mungkin kondisi seperti inilah yang diakui oleh para sufi
sebagai kondisi mereka (hal keadaan). Di mana dalam kondisis-kondisi
tersebut, mereka merasa tenggelam dalam diri mereka dan menghilag dari
indera mereka, mereka merasa menyaksikan kondisi-kondisi yang tidak
sesuai dengan akal rasional ini. Dan bisa jadi kondisi tersebut, berupa
“kematian”, sebagaimana yang diindikasikan oleh sabda Rasulullah Saw.:
“Seluruh manusia itu sedang tertidur, maka ketika ia mati, mereka akan tersadar kaget”.
Mungkin kehidupan dunia adalah tidur, lebih-lebih kehidupan akhirat
dimana ketika mati akan terlihatlah hal-hal yang berbeda dan
berkebalikan dengan apa yang mereka saksikan sekarang. Dan pada saat
itu, akan dikatakan pada mereka:
“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu”. (Q.S. Qaff [50]: 22].
Tatkala pikiran- pikiran ini muncul dalam benakku dan menghujam dalam
diriku, maka aku segera mengusahakan pengobatannya, namun tetaplah
tidak mudah. Karena tidak mungkin mengobatinya sekaligus, kecuali dengan
adanya resep (Alasan). Dan tidak mungkin memberikan resep, kecuali
dengan menyusun diagnosanya terlebih dahulu. Dan tidak mungkin dibuatkan
resep, kecuali dengan adanya kerelaan untuk sembuh. Oleh karena itu,
maka penyakit inipun semakin menguat dan mengganas didalam diriku,
kurang lebih selama dua bulan. Selama itu, aku menganut mazhab
skeptimisme (kearaguan) akan hukum kondisi, dan bukan dengan hukum
wicara dan dialogis. Sampai akhirnya Allah berkenan menyembuhkanku dari
penyakit tersebut. Diriku kembali menjadi sehat dan sembuh. Kepastian
logika kembali aku terima sebagai sebuah keyakinan yang aman dan mantap.
Hal itu terjadi bukan dengan sebuah uraian dalil alasan dan kontruksi
ilmu kalam, melainkan berkat rambatan cahaya yang dipancarkan oleh Allah
Swt. di dalam dada. Cahaya inilah yang merupakan kunci segala
pengetahuan. Maka barang siapa yang berfikir bahwa kasyaf
[ketersingkapan] bergantung kepada dalil-dalil pembebasan, maka ia telah
menyempitkan kasih Allah yang maha luas.
Tatkala ditanya tentang kata ‘syarh’ dan maknanya dalam firman Allah:
”Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah Swt. untuk diberikan
petunjuk, niscaya dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama)
Islam”. (Q.S. al-An‘am [6]: 125), Nabi Saw. bersabda:
“Itu adalah cahaya Tuhan yang dilemparkan oleh Allah ke dalam hati”.
Lalu beliau ditanya lagi, “apa tandanya?” Nabi menjawab, ”Menyingkir
dari dunia kepalsuan, dan bertaubat kembali ke rumah keabadian”. Setaraf
dengan makna hadits ini, adalah sabda Nabi yang menyatakan bahwa:
“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk didalam kegelapan, lalu Dia pancarkan cahaya-Nya pada mereka”.
Dengan bekal cahaya ini, seseorang harus mencari Kasyaf. Karena
cahaya ini mengalir dari kemurahan Tuhan dalam beberapa kondisi,
sehingga harus dilakukan pengamatan sebagaimana yang diisyaratkankan
oleh Nabi Saw. dalam dalam sabdanya, “sesungguhnya dalam waktu
hari-harimu, Tuhanmu mengalirkan kemurahan pemberian. Maka
ingat-ingatlah, carilah kemurahan itu”.
Maksud dari hikayat cerita yang aku uraikan di atas adalah agar
supaya kita bekerja dengan penuh keseriusan dalam kebaikan sehingga
berakhir dengan memperoleh sesuatu yang tidak bisa dicari.
Disiplin-disiplin terbatas bukanlah kebutuhan yang dicari, melainkan ia
hadiah [karunia]. Dan sesuatu yang hadir jika dicari, maka ia akan
menghilang. Dan barang siapa mencari hal yang tidak dicari, maka ia
tidak akan mengenal kata menyerah dalam mencari sesuatu yang
diharapkannya.
Dan ketika Allah menyembuhkanku dari penyakit ini dengan karunia dan
anugerah-Nya yang luas, maka tergambar dalam benakku bahwa orang-orang
yang mencarinya terkelompokan ke dalam empat bagian.
Pertama:
Orang-orang ahli Ilmu kalam(Teologi). Mereka menyebut diri mereka sebagai kaum rasionalis .
Kedua:
Kaum Batiniyyah. Mereka menduga bahwa mereka adalah orang-orang yang
dididik dan memperoleh hak khusus untuk mendapatkan pengajaran dari
seorang imam yang ma‘sum (terhindar dari dosa dan kesalahan).
Ketiga:
Kaum Filsuf. Mereka menyangka bahwa mereka adalah kaum ahli logika dan yang menguasai teori argumentasi (burhan).
Keempat:
Kaum Sufi. Mereka mengklaim kalau mereka adalah orang-orang yang
mempunyai tempat khusus di hadirat Ilahi. Orang-orang yang telah
menyaksikan rahasia Allah dan telah menyingkap keagungan-Nya. Oleh
karena itu, aku memantapkan dalam hatiku, bahwa kebenaran itu tidak
terbatas pada keempat golongan itu.
Mereka semua adalah orang-orang yang menelusuri jalan untuk meraih
kebenaran. Jika pun tidak ada kebenaran dari keempat golongan ini, maka
semangat untuk mencari kebenaran janganlah berhenti. Karena tidak ada
gunanya kembali kepada taqlid (ikut-ikutan) setelah ditinggalkan
sebelumnya. Karena termasuk syarat dianggap syahnya taqlid adalah ia
tidak mengetahui kalau dia adalah seorang yang taqlid. Jika ia
mengetahui dan menyadarinya, maka statusnya sebagai orang yang taqlid
tidak dibenarkan lagi. Ia bagaikan seorang bangsa yang tidak
berpemimpin. Keruwetan yang tidak bisa diatasi dengan talfiq dan ta‘lif,
kecuali jika telah dilelehkan oleh api, dan dibentuk kembali dalam
wujud bentuk yang baru.
Maka saya segera menyusuri semua jalan ini, dengan mendalami segala
pemikiran masing-masing kelompok. Pertama-tama aku mendalami jalan ilmu
Kalam, lalu Filsafat, kemudian jalan Batiniyyah, dan terakhir jalan
Sufi.
1 . ILMU KALAM, TUJUAN DAN HASILNYA
Aku memulai penelusuranku pada ilmu kalam dengan mendalami dan
mengkritisinya. Kutelaah buku-buku para pakar di kalangan mereka. Aku
membuat klasifikasi sendiri tentang ilmu ini. Banyak kutemukan tema yang
sudah memenuhi misi dari ilmu kalam, namun belum memenuhi misiku.
Tujuan ilmu kalam adalah untuk menjaga aqidah Ahl as-Sunnah dan
mempertahankannya dari gangguan ahli bid‘ah. Yaitu bahwa Allah telah
memberikan kepada para hamba-Nya dengan melalui Rasul-Nya sebuah aqidah
yang benar yang merangkum dunia dan agama mereka, sebagaimana yang
difirmankan dalam Alquran dan disabdakan oleh Nabi. Namun, syetan juga
telah menyebarkan kepada kalangan ahli bid‘ah, hal-hal yang bertentangan
dengan sunnah, yang membuat mereka menggemari dan mendalaminya sehingga
hampir menjadikan keraguan kepada para pemilik aqidah yang benar. Maka
Allah pun menggerakkan kelompok Mutakallimin dan menggerakan
motivasi-motivasi mereka untuk memenangkan sunnah dengan bahasa kalam
yang sistematis, dan mengupas kerancuan-kerancuan ahli bid‘ah yang
bertentangan dengan sunnah Nabawi. Dari sinilah awal mula pertumbuhan
ilmu kalam dan para akarnya.
Diantara para pakar ilmu kalam, ada kelompok yang menjalankan tujuan
yang telah digariskan oleh Allah. Mereka memelihara sunnah dan
memperjuangkan aqidah yang diterima langsung dari kenabian Muhammad Saw.
dari usaha rekayasa dan penyimpangan yang dilakukan oleh ahli bid‘ah.
Hanya saja mereka lebih berpegangan pada pendekatan yang diperoleh
dari musuh mereka sendiri yang memaksa mereka untuk menerima hal itu,
baik dengan cara taklid, kesepakatan ummat atau pun hanya sekedar
menerima atas dasar Alquran dan Sunnah. Keterlibatan mereka yang sangat
dominan dalam mengkaji kelemahan-kelemahan musuh dan menyalahkan atas
konsekuensi-konsekuensi rumusan dan kesimpulan dari mereka, hanya akan
memberikan manfaat yang sangat minim dalam mengajak orang yang belum
masuk Islam. Kecuali hanya menawarkan sesuatu yang sudah pasti saja.
Dengan demikian pendekatan ilmu kalam menurut saya kurang mencukupi
dan juga tidak efektif untuk mengobati penyakit yang saya derita.
Mungkin saja dengan tumbuhnya ilmu kalam, kuatnya intensitas
pergumulan mereka, dan banyaknya materi yang didiskusikan, akan
menjadikan para ahli kalam menggeser tujuan mereka dari hanya membela
sunnah Nabawi kearah kajian hakikat segala sesuatu. Mereka lebih
berkonsentrasi pada pergulatan mencari esensi, aksiden dan
ketentuan-ketentuannya. Namun, ketika menyadari bahwa itu semua bukanlah
merupakan misi dari ilmu mereka, maka kajian ilmu kalam mereka pun
tidak mencapai tujuan yang maksimal. Mereka tidak memperoleh jawaban
yang bisa mengikis kerancuan yang tengah berkecamuk dalam dinamika
pergaulan makhluk. Dan hal itu pun diakui oleh orang-orang lainnya.
Bahkan aku tidak ragu sama sekali bahwa pencapaian kelompok lain pada
hal ini hanya sekedar pencapaian dalam beberapa masalah. Bukan yang
sangat prioritas utama yang kemudian telah tertulari oleh taqlid.
Targetnya sekarang adalah menceritakan kondisiku dan bukan mengingkari
orang yang ingin berobat dengannya. Sebab terapi penyembuhan amat
beragam sesuai dangan penyakit yang dideritanya. Betapa banyak obat yang
bermanfaat bagi sejumlah pasien, namun berakibat buruk bagi pasien
lain.
2 . FILSAFAT
Adapun rangkuman ilmu Filsafat, ada yang tercela dan tidak tercela.
Yang membuat kafir penganutnya dan yang tidak. Yang termasuk bid‘ah dan
yang tidak. Yang diambil kalangan filsuf dari ahli ilmu kalam. Yang
diramu Filsuf dari ahli kalam untuk menutupi kebatilan mereka. Strategi
manusia agar tidak menerima kebenaran yang bercampur dengan kebatilan.
Dan strategi menghasilkan kebenaran murni yang lepas dari kepalsuan dan
kesamaran. Setelah mendalami secara tuntas ilmu kalam, aku mulai
mengkaji ilmu Filsafat.
Aku mempunyai keyakinan bahwa tidak akan terungkap kebusukkan suatu
ilmu, kecuali oleh orang yang sudah mendalaminya hingga sampai ke akar
dasarnya. Sehingga ia mampu menyamai para pakar yang paling pintar dalam
bidang ilmu tesebut, bahkan melebihi dan melampaui kemampuannya. Lalu
ia mampu menelaah apa yang tidak bisa ditelaah oleh kalangan akademisi
ilmu tersebut.
Dalam kondisi seperti itulah, kebusukkan yang ia duga pada sebelumnya
merupakan suatu kenyataan. Namun sayangnya, tidak kulihat -sementara
ini- adanya seorang ulama yang memberikan pengertian yang mendalam dan
mengkaji pada hal tersebut.
Dan tidak ada dalam karya ilmiah kalangan ahli kalam, sebuah usaha
yang menunjukan bantahan mereka pada pemikiran para Filsuf. Kecuali
hanya beberapa ulasan yang rumit, terpisah-pisah, bertentangan, dan
salah. Yang tidak akan dikira oleh kalangan orang awam sebagai sesuatu
yang berasal dari kelompok orang yang mengaku diri mereka sebagai
orang-orang yang mengkaji hakikat segala perkara.
Dari sini aku tersadarkan bahwa membantah sebuah pendapat sebelum
mendalami dan menelaah kedalaman isinya terlebih dahulu, hanya akan
seperti memanah di tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, aku pun
mencurahkan segala usaha dan jerih payah untuk mendalami dan menelaah
ilmu tersebut dari karya para Filsuf, tanpa bantuan seorang guru. Aku
melakukan hal tersebut pada saat-saat luangku di sela-sela kesibukan
mengarang dan mengajar, dimana kala itu aku harus mengajar 300 santri di
Baghdad.
Akhirnya, Allah menunjukan kepadaku -dengan usaha penelaahan di
waktu-waktu senggang- pada puncak ilmu-ilmu mereka dalam waktu kurang
dari dua tahun. Baru setelah faham, aku kemudian memikirkannya secara
intensif selama kurang lebih satu tahun. Aku mengulang-ulangi dan
menyelidiki jeram demi jeram kedalamannya sehingga akhirnya aku
menemukan celah-celah tipuan dan kesalahan, serta realitas dan ilusi
dalam disiplin ilmu tersebut sebagai sebuah hasil belajar dan penemuan
yang tidak kuragukan lagi.
Maka, perhatikanlah sekarang kisah pengungkapan ilmu-ilmu mereka. Aku
menyaksikan mereka terbagi dalam beberapa golongan dan ilmu mereka pun
terbelah menjadi beberapa klasifikasi. Namun, mereka semua pantas di cap
sebagai orang yang telah kafir dan menyimpang, meski ada perbedaan
jarak yang besar antara angkatan lama dan baru, serta angkatan terakhir
dan pemula, dalam segi jauh dan dekatnya mereka dalam segi kebenaran.
KLASIFIKASI FILSUF DAN TANDA KEKUFURAN MEREKA
Ketahuilah Meskipun terdapat banyak sekte dan mazhab dikalangan para filsuf, mereka dapat dibagi ke dalam tiga kelompok:
Pertama
Kelompok ad-Dahriyyun. Mereka adalah sekelompok filsuf angkatan
pertama yang mengingkari Sang Pencipta, Sang Maha mengetahui . Mereka
berpendapat bahwa dunia ada dengan sendirinya tanpa keterlibatan
Pencipta. Binatang berasal dari sperma. Seperma binatang ada dalam tubuh
mereka dengan sendirinya. Dan begitulah seterusnya. Mereka ini
merupakan kaum zindiq.
Kedua,
Kelompok Tabi‘iyyun (KOSMOLOGI). Mereka adalah kalangan filsuf yang
intensif melakukan pengkajian dan pEenelitian tentang dunia kosmos,
serta keajaiban-keajaiban hewan dan tetumbuhan. Mereka juga banyak
berkecimpung membedah dan mengamati anggota-anggota tubuh binatang.
Dengan begitu mereka menyaksikan keajaiban Allah Swt. dan keindahan
hikmah-Nya yang selanjutnya memaksa mereka harus mengakui adanya Sang
Maha Kuasa dan Sang Maha Bijaksana, Yang mengetahui segala seluk-beluk
segala sesuatu dan tujuan-tujuannya. Memang orang yang meneliti anatomi
tubuh dan keajaiban fungsi anggota-anggota tubuh akan mendapatkan ‘ilm
ad-daruri pada kesempurnaan rekayasa Sang Penyusun kontruksi hewan,
lebih-lebih struktur tubuh manusia.
Hanya saja, karena sering banyaknya meneliti alam, timbul dalam diri
mereka –dengan tujuan untuk menyeimbangkan rumusan komposisi organic-
pengaruh yang besar dalam dalam memandang factor-faktor kekuatan
binatang, maka mereka menduga bahwa daya rasional manusia pun mengikuti
komposisi organiknya juga. Tidak akan ada daya rasional manusia, jika
komposisi organiknya tidak sempurna. Dengan demikian – menurut sangkaan
mereka- ketika komposisi-komposisi organiknya sudah hilang, maka tidak
mungkin untuk terkembalikannya sesuatu yang sudah sirna. Sehingga mereka
berpendapat bahwa jiwa itu akan mati dan tidak bisa dihidupkan kembali.
Oleh karena itu, mereka mengingkari adanya Akhirat, Surga, Neraka, apel
akbar di akhirat (mahsyar) dan pemberian catatan amal Hari kiamat, dan
penghitungan (hisab). Bagi mereka, ketaatan tidak akan memberi pahala,
begitu juga maksiat tidak memiliki konsekuensi siksa. Oleh karena itu,
kendali nafsu mereka lepas, sehingga mereka memuaskan segala
keinginannya layaknya binatang.
Kelompok ini juga bisa digolongkan ke dalam golongan zindiq, karena
mereka mengingkari hari kiamat meskipun mengimani Allah dengan segala
sifat-Nya. Padahal titik pusat keimanan adalah percaya pada Allah dan
hari kiamat.
Ketiga
Kelompok Ilahiyyun (teis). Mereka adalah kalangan Filsuf generasi
terakhir seperti Socrates dimana ia adalah guru dari Plato, dan Plato
guru dari Aristotales. Aristotales-lah yang menyusun logika mereka dan
mengkodifikasi ilmu-ilmu mereka, serta menuliskan hal-hal yang belum
ditulis sebelumnya. Maka menjadi matanglah ilmu-ilmu mereka yang
sebelumnya masih mentah.
Secara umum, kelompok ini membantah kedua kelompok di atas yaitu kaum
dahriyyah dan tabi’iyyun, serta membeberkan kesalahan-kesalahan mereka
sehingga lawan-lawan mereka tidak perlu lagi memerangi mereka.
Aristoteles bahkan melakukan counter produktif atas Sokrates dan Plato,
serta Filsuf-filsuf teis sebelumnya sebagai bentuk counter yang
melepaskan dirinya dari mereka semua. Meski begitu, kalangan filsuf
Ilahiyyin tetap menyimpan sisa-sisa kekafiran dan bid‘ah mereka yang
tidak bisa dicabut lagi. Sehingga mereka semua wajib dikafirkan, begitu
juga dengan para pengikut mereka dari kalangan filsuf Islam seperti Ibn
Sina dan al-Farabi.
Tidak ada satu pun filsuf Islam yang telah berusaha secara maksimal
dalam mentransformasikan ilmu Aristotales, setaraf yang telah dilakukan
oleh keduanya. Bahkan transsformasi ilmu yang telah dilakukan oleh
selain keduanya terkesan rancu dan mengaburkan hati para pengkajinya,
sehingga malah tidak bisa difahami. Lalu bagaimana sesuatu yang tidak
bisa difahami bisa dibantah atau diterima?.
Secara global, khasanah filsafat Aristoteles yang sahih menurut kami,
sebatas nukilan kedua filsuf di atas, terangkum dalam tiga bagian:
1-Bagian yang harus dikafirkan
2-Bagian yang wajib dibid‘ahkan
3-Bagian yang sebenarnya tidak wajib diingkari.
KATAGORI ILMU-ILMU FILSAFAT
Ketahuilah bahwa disiplin ilmu filsafat, ditinjau dari tujuan dan
misi yang kita maksudkan, ada 6 bagian: matematika, logika, ilmu alam,
ilmu ketuhanan, politik, dan etika.
1. Disiplin Matematika
Disiplin ini terkait dengan ilmu hitung, teknik, dan epistemology
ilmu. Ia sama sekali tidak berhubungan dengan masalah-masalah keagamaan,
baik menafikanya atau pun meneguhkanya. Ia hanya teori argumentasi yang
tidak ada jalan untuk membantahnya setelah memahami dan
mengetahuin.Disiplin ilmu ini telah menghasilkan dua bahaya.
Bahaya pertama, barang siapa yang melihatnya, ia akan takjub terhadap
ketelitian dan kejelasan teori argumentasi-argumentasinya, sehingga
akan semakin mempertajam keyakinan dan kepercayaan kepada disiplin ilmu
filsafat. Dan juga membentuk sebuah aggapan bahwa seluruh disiplin
ilmu mereka, akan sejelas dan sekuat argumentasi mereka seperti dalam
disiplin ini. Dan jika pun ia mendengar kekafiran para praktisinya ,
pelalaian dan pelecehan mereka atas syari‘at agama dari mulut ke mulut,
ia pun akan ikut-ikutan kafir sambil menepis:
“jika memang agama yang benar, niscaya agama tak luput dari
ketelitian mereka dengan segenap ketelitian yang mereka tunjukan dalam
disiplin ilmu ini!”. Sehingga, jika diketahui kabar kekafiran dan
keingkaran mereka, Orang akan berdalih bahwa yang benar adalah penafian
dan pengingkaran atas agama.
Betapa banyak kulihat orang yang tersesat dari kebenaran dengan modus
seperti ini. Jika dikatakan kepada mereka bahwa orang yang pintar dalam
suatu keterampilan tertentu, ia belum tentu menguasai segala bidang.
Misalnya orang yang pintar dalam ilmu fiqih dan ilmu kalam belum tentu
pintar dalam disiplin kedokteran. Begitu juga orang yang tidak
mengetahui disiplin logika belum tentu ia tidak tahu masalah ilmu
Nahwhu. Akan tetapi, setiap bidang keterampilan mempunyai ahlinya
sendiri-sendiri yang mencapai tingkatan kehebatan dan kapabilitas
tertentu, meski ia mungkin saja tidak mengetehui sama sekali bidang ilmu
lain. Pernyataan para filsuf terdahulu dalam masalah matematika memang
argumentative dan jelas, akan tetapi pernyataan mereka dalam masalah
ketuhanan adalah samar dan dan tidak jelas.
Hal ini tidak akan diketahui kecuali oleh orang-orang yang telah
mencoba dan menyelaminya lebih dalam. Jika hal tersebut dikemukakan
kepada orang yang bersikap taklid seperti yang telah dikatakan, maka
tetap saja mereka tidak akan menerima. Mereka akan lebih dikendalikan
oleh hawa nafsu dan syahwat kepahlawanan, serta lebih cenderung
menganggap lebih baik pada kalangan filsuf kafir dalam semua disiplin
ilmunya.
Ini merupakan petaka besar yang harus segera dibendung oleh setiap
orang yang menyelami disiplin-disiplin ilmu ini, meskipun disiplin ilmu
tersebut tidak ada kaitannya dengan masalah agama. Namun jika
prinsi-prinsip dasar ilmu mereka ini mengalirkan kesesatan dan
kejelekan, maka sedikit saja kejelekan terkena pada orang yang
menggeluti disiplin ilmu ini akan berakibat tercerabut dari ajaran
agamanya dan akan terlepas pula ikatan ketaqwaannya.
Bahaya kedua, akan muncul orang bodoh dari golongan konservatif
islam . Orang seperti ini menduga bahwa agama sebaiknya mengingkari
setiap ilmu yang dinisbatkan pada setiap kalangan ahli disiplin ini.
Maka ia pun lalu mengingkari seluruh disiplin ilmu mereka bahkan
menuduh merek sebagai bodoh. Sehingga ia juga mengingkari pendapat dan
pemikiran mereka dalam bidang gerhana matahari dan gerhana bulan. Dengan
keyakinan bahwa setiap statemen yang mereka katakan adalah bertentangan
dengan syari‘at.
Maka jika saja hal ini( Pandangan konservatif kalangan islam)
dikemukakan dihadapan orang yang sudah mengetahui disiplin ini dengan
argumentasi yang kuat dan mapan, mereka malah akan semakin berkeyakinan
bahwa Islam dibangun diatas kebodohan dan pengingkaran argumentasi,
sehingga dengan demikian filsafat akan semakin dicintainya dan Islam
malah akan semakin dibencinya.
Lebih bahaya lagi, agama juga telah dinodai oleh orang yang
beranggapan bahwa Islam mengingkari ilmu-ilmu ini, dan bahwa syari‘at
juga tidak menyinggung ilmu ini sama sekali, baik menafikan ataupun
membenarkan. Begitu juga ilmu-ilmu ini tidak menyinggung dan berhubungan
dengan masalah agama. Padahal Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya
matahari dan bulan mengandung dua tanda-tanda pengingat Allah. Keduanya
tidak tenggelam oleh kematian ataupun kehidupan seseorang. Maka jika
kamu melihat hal itu, bersegeralah mengingat Allah dan melaksanakan
shalat”.
Namun hal ini tidak berarti mengingkari ilmu hitung yang dikenal
dengan nama rotasi matahari dan bulan, berkumpul dan sejajar-nya. Bahkan
sabda Rasulullah saw., “Akan tetapi Allah jika memperlihatkan diri
pada sesuatu, maka sesuatu itu akan tunduk padanya”. Maka tidak juga
didapat dalih lain yang mengingkari ilmu hisab dalam kitab-kitab yang
sahih. Demikianlah hukum disiplin Matematika dan bahaya yang
ditimbulkannya.
2. Disiplin Logika
Disiplin ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama, baik dalam
bentuk negasi maupun justifikasi. Disiplin ini hanya merupakan
penalaran atas cara-cara pembuktian dan parameter, syarat-syarat
validitas premis dan cara menyusunnya, serta syarat-syarat batasan yang
benar dan bagaimana menyusunnya. Sebuah disiplin ilmu memang mempunyai
dua kemungkinan jalan pengetahuan dan jalan pembenarannya. batasan
eksekutor atau argumentasi. Tidak ada hal dalam disiplin logika ini yang
harus diingkari. Ia merupakan jenis yang dimasukan oleh kaum
mutakallimin dan para pakar teoritik ke dalam bagian
argumentasi-argumentasi. Yang membedakan mereka hanya ungkapan dan
istilah saja, serta tambahan rumusan pada definisi-definisi dan
pemilahannya.
Contoh pendapat mereka adalah: jika ditetapkan bahwa A bagian dari
B, maka semestinya B bagian dari A. Atau dengan kata lain, jika setiap
manusia adalah hewan, maka semestinya beberapa hewan adalah manusia.
Kesimpulan ini mereka ungkapkan dalam bentuk bahwa konsekuensi Universal
mencerminkan konsekuensi parsial.
Jadi, apa hubungannya disiplin ini dengan tugas-tugas keagamaan
sehingga ia harus diingkari? Bahkan jika disiplin ini diingkari, maka
pengingkaranya hanya akan membentuk persepsi buruk dihadapan diri para
akademisi logika terhadap nalar para pengingkarnya. Bahkan bisa pada
agama si pengingkar yang menjadi acuannya dalam mendukung pengingkaran
ini.
Memang, ada bentuk noda dalam disiplin ilmu ini. Yaitu ketika mereka
mengumpulkan syarat-syarat sebuah argumen yang diketahui akan melahirkan
keyakinan yang tiada diragukan lagi. Namun begitu mencapai kesimpulan
akhir pada maksud-maksud keagamaan mereka tidak mampu memenuhi
syarat-syarat tersebut, bahkan mereka malah sangat meremehkannya.
Padahal masih terbuka kemungkinan bahwa bagi orang yang mendalami
logika, ia akan menganggapnya baik-baik saja dan jelas, sehingga
terbentuk sebuah dugaan bahwa apa yang dinukil mereka dari wacana
kekafiran memang didukung dengan argumentasi-argumentasi seperti ini.
Maka orang inipun akan segera kafir sebelum sampai pada penghujung
disiplin ilmu-ilmu ketuhanan.
Demkianlah Bahaya yang menyusup ke dalam disiplin ilmu logika ini.
3. Disiplin Alam (Tab‘iyyat)
Adalah disiplin yang membahas alam langit, planet, dan apa yang di
bawahnya berupa materi tunggal, seperti: air, udara, debu, dan tanah,
serta materi komplek, seperti: hewan, tumbuhan, dan barang tambang.
Disiplin ini juga membahas sebab-sebab perubahannya, pemuaian dan
kombinasinya. Hal itu seperti diagnosa seorang dokter pada tubuh
manusia, anggota-anggota badan yang utama dan penunjang, serta
sebab-sebab perubahan karakternya.
Sebagaimana agama tidak mengingkari disiplin kedokteran, maka ia juga
tidak mengingkari dan tidak menolak disiplin ini. Kecuali beberapa
masalah tertentu yang kami ulas di dalam kitab ‘Tahafut al-Falasifah’
(kerancuan para filsuf). Disamping beberapa hal lain yang harus dibantah
jika dicermati dengan lebih seksama. Kesimpulannya, bahwa alam dibawah
kendali dan kuasa Allah. Alam tidak bekerja dengan sendirinya, melainkan
menggunakan tangan Pencipta dan Pengendalinya. Matahari, planet, bulan,
bintang, dan galaksi-galaksi alam lainnya, semua berjalan di atas
titah-Nya. Bukan bekerja dengan kekuatanya sendiri.
4. Disiplin Ketuhanan (Ilahiyyat)
Di sinilah para filsuf banyak yang tersesat dalam kubangan kesalahan
dan kekeliruan. Mereka tidak mampu memenuhi argumentasi-argumentasi
yang mereka syaratkan sendiri dalam ilmu logika. Karena itulah di
kalangan mereka sendiri banyak sekali perdebatan dan perbedaan pendapat
dalam disiplin ini. Dalam sekup ketuhaAnan, mazhab Aristoteles dekat
dengan mazhab-mazhab kalangan Islam, seperti yang dikutip oleh al-Farabi
dan Ibn Sina.
Rangkuman kekeliruan mereka dalam disiplin ini dibagi menjadi 20 prinsip masalah yang kami susun dalam kitab
Tahafut al-Falasifah.
Tiga diantarnya menyebabkan mereka harus dikafirkan, 17 harus
dibid‘ahkan dan mazhab mereka juga harus digugurkan. Dan untuk membantah
pemikiran mereka dalam 20 permasalahan ini, kami telah menyusun kitab
Tahafut al-Falasifah.
Adapun tiga masalah yang bertentangan dengan pokok-pokok keimanan umat Islam adalah pendapat mereka sebagai berikut:
a. Jasad (pada hari kiamat) tidak dikumpulkan di Mahsyar.
Karena yang menerima pahala dan siksa hanyalah ruh tanpa jasad. Sebab
ganjaran pahala dan siksa adalah soal ruhaniah dan bukan jasmaniyah
fisik.
Mereka benar ketika menetapkan ruhaniah sebuah sesuatu yang nyata.
Mereka salah besar ketika mengingkari jasmaniah fisikal. Mereka telah
mengingkari ( Kufur ) syariat dengan pernyataan ini.
b. Allah hanya mengetahui masalah Universal makro, tanpa
mengetahui masalah Parsial mikro. Ini jelas-jelas bentuk sebuah
kekafiran. Yang benar adalah bahwa,
“Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sebesar zarrah pun yang ada di langit dan di bumi” (Q.S. Saba‘ [34]:3).
c. Juga pendapat mereka tentang terdahulunya alam( bukan baru)
dan azalinya alam. Tidak ada satu pun orang Islam yang berpendapat
demikian, sehingga mereka bisa dikatakan telah kafir dengan pendapat
seperti ini.
Adapun masalah-masalah selain mengenai pendapat ini, seperti
pengingkaran mereka akan sifat-sifat zat Allah, juga pendapat mereka
bahwa Allah Maha Tahu tentang esensi-esensi tapi bukan dengan
pengetahuan surplus (‘ilm zaid); serta pendapat-pendapat serupa, maka
dalam hal ini mereka lebih dekat dengan mazhab Mu‘tazilah. Mereka tidak
wajib dikafirkan seperti dikafirkannya kelompok Mu‘tazilah. Dalam kitab
‘Faisol at-Tafriqah bayna al-Islam wa az-Zanadiqah’ (Memilah perbedaan
antara Islam dan Zindiq), kami telah menjelaskan kesalahan dan
kebobrokan pendapat orang yang terlalu buru-buru dan serampangan
mengkafirkan setiap mazhab dan pendapat yang berbeda dengan mereka.
5. Disiplin Politik (Siyasiyyat)
Semua pendapat kalangan filsuf dalam tema ini, merujuk pada
hukum-hukum kebaikan umum yang berkaitan dengan masalah-masalah
keduniaan dan kewenangan kekuasaan. Bahkan mereka mengambilnya juga dari
kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para Nabi, serta
rumusan-rumusan dari kaum salaf penerus para Nabi.
6. Disiplin Etika (Khuluqiyyat)
Maka semua pendapat mereka dalam tema ini merujuk pada pembatasan
sifat-sifat diri dan etikanya. Penjelasan jenis-jenis dan macamnya,
serta bagaimana mengatasi dan melatihnya. Dalam hal ini, mereka lebih
merujuk pada rumusan-rumusan kaum Sufi yang telah beribadah dan giat
mengingat Allah, menentang hawa nafsu, dan meniti jalan menuju Allah
dengan berpaling dari segala kesenangan dunia.
Dalam bermujahadah melatih diri, kaum sufi telah menyingkap etika
diri, celah-celah bahaya nafsu, dan menyadari bahaya menuruti hawa
nafsu. Dalam hal ini, kalangan filsuf mengambilnya untuk kemudian
mengakomodasikan dengan pendapat mereka sendiri sebagai bentuk
penghiasan diri dalam rangka menyebar luaskan kebatilan pemikiran ini.
Pada masa mereka, bahkan disetiap masa, memang akan selalu ada
kelompok penyembah Tuhan. Allah tidak akan mengkosongkan dunia dari para
penyembahnya. Mereka adalah pasak-pasak bumi. Berkat mereka rahmat-Nya
turun pada penduduk bumi, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis
Nabi Saw. yang berbunyi:
“Karena mereka kamu sekalian dikaruniai hujan, dan karena mereka kamu
sekalian dianugerahi rizki Diantara kalangan ini adalah Ashab al-Kahf”.
Seiring dengan jalanya waktu, sebagaimana penuturan Alquran,
pengakomodasian yang dilakukan oleh kalangan filsuf dari prinsip
kenabian dan prinsip kesufian dalam karya-karya mereka telah melahirkan
dua bahaya besar. Bahaya bagi yang menerima dan bahaya bagi yang
menolak.
1.Bahaya bagi yang menolak, cukup sangat dahsyat.
Kaum lemah akal akan tetap bersikap menganggap buruk. Dengan
berkeyakinan bahwa prinsip yang termaktub dalam kita-kitab mereka dan
yang tercampuri noda kebatilan mereka, harus ditinggalkan dan tidak
disebut. Bahkan kalangan lemah akal ini juga mengingkari setiap orang
yang menyebutnya. Ketika mereka mendengarnya pertama kali, yang
mula-mula hadir dalam akal lemah mereka adalah bahwa hal itu batil dan
yang mengucapkanya pun batil. Misalnya ketika si lemah akal mendengar
seorang Nasrani mengatakan:
“Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah utusan Allah”. Maka mereka
akan langsung mengingkarinya sambil mengatakan: “ Ini adalah kata-kata
orang nasrani”. Mereka tidak pernah sedikit pun merenung dan berfikir
bahwa orang Nasrani ini hanya kafir karena ucapan ini, atau dengan
mengingkari kenabian Muhammad Saw. yang mereka lihat bahwa statemen itu
diucapkan oleh orang Nasrani dan karenanya pasti salah dan harus
dimunkarkan tanpa melihat kebenaran ucapan mereka. Inilah kebiasaan
orang-ornang lemah akal yang mendefinisikan kebenaran berdasarkan orang,
bukan berdasarkan atas kebenaran itu sendiri. Seorang yang berakal akan
mengikuti nasehat yang disampaikan oleh Amir al-Mu‘minin ‘Ali bin Abi
Thalib ra., ‘Jangan pandang kebenaran berdasarkan orang, tapi ketahuilah
kebenaran dangan kebenaran itu sendiri niscaya akan kamu ketahui
pemiliknya.
Seorang yang berakal akan menganggap kebenaran sebagai sebuah
kebenaran, baik yang mengucapkannya orang yang batil maupun orang yang
lurus, bahkan mungkin ia akan bersemangat menjemput kebenaran dari
kata-kata orang sesat dengan asumsi bahwa emas yang keluar dari dubur
hewan kotor sekalipun tetaplah emas. Seorang tukang emas tidak akan
segan-segan memasukan tangannya ke dalam plastik milik tukang sepuh emas
dan mengabil emas murni di antara yang palsu dan imitasi, setelah yakin
dengan pandangannya. Ia hanya tidak mau berurusan dengan tukang sepuh
emas desa tanpa menelitinya terlebih dahulu; ia tidak mau menyeberangi
lautan yang dalam, kecuali ia adalah perenang yang hebat; dan menolak
menangkap anak ular, kecuali ia mengetahui mantera yang hebat.
Ketika dugaan telah menguasai kebanyakan makhluk bahwa mereka
mempunyai kehebatan, kepintaran, kesempurnaan akal dan kelengkapan alat
untuk membedakan kebenaran dan kebatilan, yang lurus dan yang sesat,
maka dibutuhkan satu bab khusus untuk menghalau mereka semua dari
menelaah kitb-kitab kalangan sesat sedapat mungkin. Karena mereka tidak
akan selamat dari bahaya kedua yang akan kami sebutkan, meskipun mereka
telah selamat dari bahaya pertama.
Muncul penolakan atas beberapa kalimat yang termuat dalam kitab-kitab
kami tentang rahasia ilmu-ilmu agama dari sekelompok orang yang belum
kuat hati mereka dalam disiplin keilmuan dan belum terbuka juga mata
hati mereka akan puncak mazhab-mazhab. Mereka menuduh bahwa beberapa
kalimat tersebut adalah pernyataan orang-orang terdahulu , dimana
sebagian kalimat itu, menurut mereka, muncul dari ‘daerah bahaya’ yang
akan memperosokan seorang penggali ke dalam lubang yang ia gali sendiri.
Padahal beberapa kalimat itu juga terdapat dalam kitab-kitab syari‘at,
bahkan banyak pula ditemukan maknanya dalam kitab-kitab sufisme. Atau
taruhlah hal itu tidak ada kecuali hanya dalam kitab-kitab orang-orang
kuno.
Maka jika memang pernyataan tersebut masuk akal, bahkan didukung pula
dengan argumentasi serta tidak bertentangan dengan Alquran dan Sunnah,
maka ia pun tidak perlu dihindari dan ditinggalkan. Jika kita
meninggalkan setiap kebenaran yang telah dikeluarkan oleh orang yang
bahaya dan batil, niscaya kita akan menelantarkan banyak sekali
kebenaran. Kita terpaksa juga harus meninggalkan beberapa ayat Alquran,
sabda-sabda Nabi dan nasehat-nasehat kaum salaf, serta kata-kata hikmah
dari kaum waskita dan sufi, hanya dikarenakan penulis kitab ‘ikhwan
as-safa’ telah mencantumkan dan berargumentasi dengan menggunakan
pernyataan-pernyataan para ulama pendahulu tersebut untuk menarik hati
orang-orang yang bodoh agar mengikuti kebatilan mereka. Derajat ‘Alim
(Orang berilmu) yang paling rendah ialah ia mampu membedakan dirinya
dengan orang awam yang berpengalaman sama sekali.
Madu tidak akan busuk meski berada di dalam gelas pembekaman, karena
terbukti pembekaman tidak akan merubah esensi madu. Penolakan tabi‘at
atas madu tersebut hanya didasarkan pada kebodohan orang awam karena ia
berasumsi bahwa gelas pembekaman dipakai untuk wadah darah yang kotor.
Ia pikir bahwa darah menjadi kotor karena berada dalam gelas pembekaman,
padahal darah itu kotor dengan sendirinya dikarenakan adanya sifat
dalam zatnya. Maka jika sifat ini tidak ada dalam madu tersebut, maka
adanya madu di dalam alat pembekaman tidak berarti madu memiliki sifat
tersebut. Sehingga madu tidak boleh begitu saja dianggap
kotor.Cara
pikir sembrono yang menganggap kotor madu dalam gelas pembekaman adalah
sangkaan yang batil meskipun mendominasi pemikiran kebanyakan orang.
Mereka akan menerima begitu saja setiap perkataan yang disandarkan
pada orang yang mereka pandang baik akidah keyakinan mereka, meskipun
perkataannya batil. Dan mereka akan menolak mentah-mentah setiap
perkataan orang yang mereka anggap sesat keyakinannya, sebenar apa pun
perkataan mereka. Mereka selamanya memandang kebenaran pada pribadi
pengucapnya, bukan pada inti kebenaran itu sendiri. Ini jelas-jelas
sangat batil. Dan demikianlah bahaya atas orang yang menolak.
2.Adapun bahaya bagi yang menerima adalah
Bahwa orang yang menelaah kitab mereka, misalnya kitab-kitab Ikhwan
as-Safa dan yang lainnya. Begitu melihat kombinasi bagus pendapat mereka
dengan kata-kata nasehat nubuwwah (kenabian) dan sufisme, mereka akan
langsung tergerak untuk menganggapnya baik dan mengokohkan keyakinannya
pada mereka. Mereka akan cepat-cepat menerima kebatilan kombinasi mereka
hanya karena sangkaan baik yang dihasilkan dari apa yang telah ia lihat
dan anggap baik. Ini merupakan bentuk penggiringan pada kebatilan.
Dalam rangka mengantisipasi bahaya ini, harus dilakukan pelarangan
untuk menelaah kitab-kitab kaum filsuf kombinatif ini karena kandungan
bahaya dan kesalahan didalamnya. Sebagaimana keharusan mencegah orang
yang tidak bisa berenang untuk meloncat ke sungai, maka wajib pula
mencegah orang-orang untuk menelaah kitab-kitab berbahaya tersebut. Juga
sebagaimana kewajiban menjaga anak kecil dari gigitan ular, maka
menjadi wajib pula menjaga pendengaran dari campur-aduk kata-kata
mereka. Dan sebagaimana kewajiban seorang pawang ular untuk tidak
membawa ularnya di hadapan anaknya yang masih kecil. Jika ia tahu betul
bahwa anaknya yang masih kecil itu akan mendekati ular itu karena
menyangka dirinya kebal seperti bapaknya, bahkan ia malah wajib
memperingatkannya dengan memperingatkan dirinya terlebih dahulu untuk
tidak mempermainkan ular di hadapan anak kecil. Maka wajib pula bagi
alim ulama untuk melakukan hal yang sama. Begitu juga sebagaimana
seorang pawang ular yang pintar, ketika mengambil ular, ia akan bisa
membedakan antara racun ular dan penangkalnya, maka diambilnya penangkal
racun dan dibuangnya bisa ular tersebut. Ia pun tidak boleh kikir
dengan penangkal racun bagi orang yang sangat membutuhkannya.
Sama juga dengan seorang tukang emas, ketika ia memasukkan tangannya
ke dalam kantong sepuhan, lalu ia mengambil yang murni dan membuang yang
sepuhan dan imitasi. Maka ia juga tidak boleh kikir untuk membagi emas
yang baik bagi orang yang membutuhkannya. Maka begitu pun juga seorang
ulama.
Sama halnya, ketika seorang yang membutuhkan penangkal racun merasa
jijik, karena ia tahu bahwa penangkal itu dihasilkan dari ular yang
merupakan sumber racun, maka si pawang wajib memberi tahu. Begitu juga
seorang fakir miskin, mungkin ia akan menolak menerima emas yang
dikeluarkan dari kantong sepuhan, karena ia pikir itu hanya emas
imitasi, maka si tukang emas harus memperingatkan bahwa penolakannya
adalah sebuah kebodohan dan ini adalah sebab tidakdapatnya akan manfaat
yang sebenarnya ia butuhkan. Harus diberitahukan juga kedekatan tempat
emas dengan yang imitasi tidak berarti lantas menjadikan emas murni
tersebut menjadi imitasi dan yang imitasi menjadi murni.
Maka demikian juga kedekatan tempat antara kebenaran dan kebatilan,
tidak akan menjadikan kebenaran menjadi batil dan kebatilan menjadi
benar.
Demikianlah bahaya filsafat dan belenggunya sebatas yang kami kemukakan.
ALIRAN BATINIYYAH DAN BAHAYA-BAHAYANYA
Setelah menyelesaikan penelaahan ilmu filsafat, mendalami dan
membedakan kepalsuan-kepalsuan yang ada. Aku masih saja belum cukup
meraih targetku. Akal memang tidak akan mampu menutupi seluruh tuntutan
kebutuhan dan tidak akan bisa juga membuka seluruh tabir permasalahan.
Saat itu ramai sekali pembicaraan aliran Ta‘limiyyah. Para
penyebarnya menyebar di tengah-tengah umat dan menceramahi mereka
tentang pengetahuan makna tema penting dari Imam Ma‘sum sang penegak
kebenaran. Aku mendapat tugas untuk meneliti pemikiran-pemikiran mereka
dengan mengacu pada kitab-kitab mereka. Kemudian dengan titah khalifah,
aku menyanggupi juga untuk menyusun sebuah kitab yang mengupas dan
menjelaskan seluk-beluk mazhab Ta‘limiyyah ini. Aku sama sekali tidak
kuasa menolaknya, walaupun hal itu ada dorongan luar untuk melakukanya
namun juga ada motivasi dalam batin pribadiku. Aku mulai mencari
kitab-kitab mereka dan mengumpulkan pemikiran-pemikiran mereka. Dan aku
telah mengetahui beberapa pernyataan terbaru mereka yang diberikan oleh
para pemikir baru mereka, yang bukan merupakan metode dari para
pendahulu dan tokoh-tokoh mereka. Aku kemudian mengurutkannya secara
sistematis dengan rapi dan perbandingannya. Aku menjawab semua
pertanyaan ini secara mendetail sehingga beberapa orang dari kalangan
ahl al-haqq memperingati akan keberanianku dalam menetapkan argumentasi
mereka. Mereka bilang, “Ini adalah kemenangan mereka. Mereka sebenarnya
tidak mampu mempertahankn mazhab mereka dengan segala kerancuan yang
ada, kalau bukan karena penyelidikan dan sekematis Anda atas mazhab
tersebut”.
Tantangan ini memang benar adanya. Imam Ahmad Ibn Hambal pernah
menegur dan menentang karya al-Haris al-Muhasibi dalam membantah
Mu‘tazilah. “membantah bid‘ah adalah kewajiban!” kata al-Haris. “benar,
tetapi anda mengurai kerancuan mereka terlebih dahulu, kemudian baru
membantah dan menjawabnya. Apa Anda berani menjamin? bahwa orang yang
membaca tidak malah akan tertarik dengan kerancuan tersebut dan malah
tidak melihat serta memperhatikan sama sekal jawaban dan bantahan Anda,
sementara mereka tidak memahami intinya.
Apa yang disebut oleh Imam Ahmad memang benar adanya, tetapi hanya
untuk kasus kerancuan yang belum tersebar dan terkenal di kalangan umum.
Adapun kerancuan yang sudah terlanjur menyebar, maka menjawab dan
membantahnya merupakan kewajiban dan tidak mungkin pula membantahnya
tanpa memaparkan terlebih dahulu.
Memang, seharusnya kita tidak perlu repot-repot membeberkanya. Aku
juga sebenarnya tidak bermaksud demikian, hanya saja aku mendengar
tentang kerancuan-kerancuan tersebut dari salah seorang kawan yang
sering berkunjung ke rumahku. Ia masuk ke dalam organisasi mereka dan
menyerap pemikiran mazhab mereka. Ia menceritakan bahwa mereka
mengolok-olok dan mentertawakan karangan beberapa penulis yang berisi
bantahan atas mazhab mereka karena para penulis memahami betul
argumentasi mereka. Si kawan itu pun lebih lanjut menguraikan
argumentasi-argumentasi yang mereka kemukakan. Maka aku pun tidak ingin
diriku disebut lalai pada objek keaslian argumentasi mereka. Karena
itulah, aku kemudian berinisiatif menyertakannya juga. Aku tidak ingin
pula dikatakan belum memahami argumentasi tersebut meski telah
mendengarnya, sehingga kuputuskan juga untuk menyelidiki argumentasi
mereka.
Misi dan target yang ingin kucapai dengan menyelidiki kerancuan
mereka kemudian memunculkan ketidak validan argumen mereka dengan
argumentasi yang mencukupi.
Hasilnya, pada kenyataan hal itu tidak menunjukan hasil positf bagi
mereka atau menjadi perdebatan yang berkepanjanagan bagi mereka. Dan
kalau saja tidak ada pembelaan beberapa kawan yang bodoh, niscaya bid‘ah
tersebut sudah tamat riwayatnya dengan segala kelemahan mereka pada
lefel ini. Sayang, kerasnya fanatisme telah membawa orang-orang menjadi
tercerabut dari kebenaran, untuk memperpanjang konflik dengan mereka
pada setiap pembicaraan mereka, dan mendebat segala yang mereka ucapkan.
Mereka bahkan mendebat pengakuan mereka, “kebutuhan pada pengajaran dan
pengajar”, serta “tidak semua pengajar baik. Kerena itu yang
dibutuhkan adalah seorang pengajar ma‘sum”.
Maka yang terjadi kemudian, argumentasi mereka pun malah semakin
populer dan menguat, karena relitanya memang kita semua membutuhkan
pengajaran dan pengajar. Sementara itu, jawaban para pengingkarnya
semakin melemah dalam menghadapi mereka. Hal demikian, membuat aliran
ini pun semakin bangga diri sambil menyangka bahwa hal itu dikarenakan
kekuatan mazhab mereka. Dan kelemahan mazhab kalangan yang berbeda
pendapat dengan mereka. Mereka tidak mengetahui bahwa hal itu lebih
disebabkan karena kelemahan para pembela kebenaran dan kebodohan mereka
akan metodologi yang tepat.
Memang kita harus mengakui bahwa kita semua membutuhkan seorang
pengajar agung, dan pengajar ini jelas haruslah seorang ma‘sum yang
bebas dari salah dan dosa. Namun sang pengajar ma‘sum kita adalah
Muhammad Saw. dan ketika mereka mengatakan, “tapi kan beliau sudah
meninggal”, kita bisa membalas mereka, “pengajar anda juga menghilang”.
Kemudian jika mereka berargumentasi lagi, “tapi pengajar kami telah
mengajar para da‘i dan menyebarkannya di seluruh pelosok negeri. Dia
hanya menunggu mereka akan merujuknya saat terjadi perbedaan diantara
mereka atau ada masalah penting yang menimpa mereka”, bisa kita katakan
juga pada mereka, “Pengajar kami juga telah mendidik para da‘i dan
menyebarkan mereka ke seluruh pelosok negeri, bahkan telah
menyempurnakan ajarannya sebagaimana firman Allah,
“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu”. (Q.S. al-Midah[5]: 3).
setelah sempurnanya ajaran, maka tidak akan menjadi mudarat lagi kematian atau ketiadaan sang Pengajar”.
Jika mereka bertanya, “Bagaimana kalian menghukumi sesuatu yang belum
kalian dengar? Apa dengan dalil yang belum pernah kalian dengar juga,
ataukah dengan cara ijtihad dan penalaran yang merupakan wadah sangkaan
perbedaan pendapat?”, kita akan jawab, “kami akan melakukan apa yang
telah dilakukan oleh Mu‘az Ibn Jabal ketika ia diutus oleh Rasulullah
Saw. ke Yaman. Dia menghukumi dengan nass [dalil hukum dari Alquran dan
Sunnah Nabi] jika memang ada nas, dan dengan berijtihad disaat tidak
ada dalil. Bahkan kita juga meniru tindakan para pendakwah mereka ( kaum
batiniyyah ), ketika mereka jauh dari sang Imam diujung negri, sehingga
mereka tidak mungkin menghukumi dengan nass. Padahal dalil-dalil yang
saling berjauhan tidak akan menyerap realitas lain yang saling
berjauhan. Tidak mungkin pula melaporkan setiap peristiwa dan kejadian
pada negeri si Imam, atau menempuh perjalanan jauh ke sana dan kembali
hingga si peminta fatwa telah meninggal. Dan kembalinya mereka pun
menjadi tiada arti. Begitu juga orang yang susah menentukan arah kiblat,
maka tidak ada cara lain baginya untuk melaksanakan shalat kecuali
dengan berijtihad. Jika ia pergi ke negeri sang Imam hanya untuk
mengetahui arah kiblat, tentunya waktu shalat sudah akan berlalu.
“Jadi boleh shalat dengan tanpa menghadap kiblat dan lebih hanya
berdasarkan sangkaan semata?” Jika dikatakan demikian, maka kita akan
menjawab, “sesungguhnya orang yang salah dalam ijtihadnya memperoleh
satu pahala dan dua pahala bagi yang benar”. Begitu pula dalam seluruh
bidang ijtihad. Masalah penyaluran zakat pada fakir miskin misalnya.
Mungkin si pemberi zakat menyangka si fakir dengan ijtihadnya sebagai
orang kaya yang berhaluan batini yang suka menyembunyikan hartanya. Maka
kalau pun salah, ia tetap tidak berdosa, sebab seperti orang yang
berijtihad menentukan kiblat, ia mengikuti sangkaan dirinya meskipun
harus berbeda dengan orang lain”.
Jika ia mempertahankan, “Di sini, seorang pengikut mazhab mengikuti
siapa? Imam Abu Hanifah, Imam Syafi‘i –semoga Allah mengasihi keduanya-
ataukah Imam yang lainnya.?” Maka akan saya jawab, “Seorang pengikut
mazhab dalam menentukan arah kiblat berada dalam posisi yang sama.
Artinya, kepada imam yang mana pun ia bisa mengikutinya,” “tapi jika
para mujtahid tersebut berbeda pendapat dalam hal itu, apa yang akan ia
perbuat?.” Akan aku jawab, “Ia bisa berijtihad untuk mengetahui mana
yang lebih utama dan lebih tahu akan dalil-dalil kiblat, maka dia bisa
mengikuti ijtihad tersebut. Begitu juga dalam berbagai pendapat mazhab
lainnya”.
Pengembalian masalah manusia pada ijtihad merupakan hal darurat bagi
para Nabi dan Imam, dan mereka sadar juga bahwa kadang mereka bersalah.
Nabi Saw. misalnya pernah bersabda:
“Aku hanya menghukumi dengan dzohirnya dan Allah-lah yang mengurusi rahasia-rahasianya”.
Dengan bahasa lain, Nabi ingin mengatakan bahwa, “aku menghukumi
dengan dugaan yang dihasilkan dari ucapan para saksi, sehingga mungkin
saja aku keliru”.
Tidak ada jaminan bebas dari kekeliruan pada diri para Nabi dalam
masalah-masalah ijtihad seperti ini, lalu bagaimana kita akan berbuat
lebih dari itu?.
Dalam hal ini, mereka (kaum batiniyyah) mempunyai dua pertanyaan penting.
Pertama
“diperkenankan ijtihad pada masalah-masalah yang boleh diijtihadkan
(obyek ijtihad ), tetapi tidak dalam masalah keyakinan (aqaid). Sebab
jika salah, maka ia tidak terampuni. Lalu bagaimana caranya?”.
Jawab saya, “Kaidah-kaidah akidah sudah tercakup dalam Alquran,
sunnah serta dan uraian terinci di belakang keduanya. Hal-hal yang
dipertentangkan di sini bisa diketahui kebenarannya dengan cara
menimbangnya dengan timbangan yang lurus (al-qistas al-mustaqim), yaitu
timbangan-timbangan yang telah disebutkan oleh Allah Swt. dalam
kitab-Nya dan jumlahnya 5 timbangan. Semua sudah kusebutkan dalam kitab
saya yang berjudul “al-Qistas al-Mustaqim”.
Jika ia bertanya lagi, “tapi lawan-lawan anda kan menentang timbangan anda ini?”.
Maka akan saya jawab:
“tidak bisa dibayangkan jika orang yang sudah memahami
timbangan-timbangan ini kemudian menentangnya. Para pakar at-Ta‘lim
tidak bisa menentangnya, karena saya intisarikan dari Alquran dan aku
juga mempelajarinya dari Alquran. Kalangan ahli logika pun tidak akan
bisa menentangnya, karena hal itu sesuai dengan apa yang mereka
syaratkan sendiri dalam disiplin logika yang tidak diperdebatkan lagi.
Begitu juga para pakar kalangan mutakallimin, karena hal itu pun sesuai
dengan apa yang mereka sebutkan dalam dalil teoritik dan dengan teori
dimana suatu kebenaran diketahui dalam disiplin ilmu kalam”.
“Jika memang ditangan anda sudah ada timbangan ini, lalu mengapa
tidak anda angkat perbedaan yang terjadi diantara manusia?” Mereka
bertanya demikian. Akan saya jawab:
“jika kalian mau mendengarkanku, niscaya akan kulenyapkan
perselisihan diantara mereka! Sudah saya sebutkan cara-cara
menghilangkan perselisihan ini dalam kitab ‘al- Qistas al-Mustaqim’.
Maka renungkanlah agar anda mengetahui bahwa itu adalah kebenaran, dan
ini pasti akan menghilangkan segala perselisihan jika mereka mau
medengarkan. Tapi nyatanya mereka juga tidak mau mendengarkannya.
Buktinya, ada golongan yang mau mendengarkanku, lalu kuselesaikan
konflik diantara mereka. Sementara Imam anda juga ingin mengangkat
perselisihan diantara mereka dan mereka tidak mau mendengarkannya, ia
juga tidak mampu menghilangkannya juga hingga sekarang.
Mengapa juga Ali ra. belum juga mengangkatnya( menghulangkan
konflik), padahal beliau adalah pemimpin para imam? Atau ia mampu
mengajak mereka semua untuk mendengarkan nasehat mereka dengan paksa,
lalu mengapa ia tidak memaksa mereka hingga sekarang? Lalu sampai kapan?
Malahan dakwahnya hanya menyebabkan bertambahnya perbedaan dan
penentang. Benar! Beliau memang mengkhawatirkan perbedaan pendapat
sebagai sesuatu yang membahayakan, namun tidak akan berakhir dengan
pertumpahan darah, memporak porandakan negara, dan membuat panjang
daftar anak-anak yatim, maraknya perampokan, serta perampasan harta.
Telah terjadi di dunia ini, berkat penghilangan perselisihan yang kalian
lakukan suatu akibat yang belum pernah ada bandingannya dalam sejarah
“.
Jika mereka bertanya:
“Anda mengaku telah menyelesaikan perselisihan diantara manusia, tapi
orang yang merasa paling bingung di antara mazhab yang saling
bertentangan dan perselisihan yang saling berhadapan, tidak akan mau
mendengarkan anda juga, apalagi lawan anda. Kebanyakan lawan anda juga
berselisih dengan anda. Jadi apa bedanya anda dengan mereka?”.
Ini adalah pertanyaan kedua mereka dan akan saya jawab: “pertanyaan
ini seharusnya ditujukan kepada anda terlebih dahulu. Jika anda
mendakwahi orang bingung ini untuk mengikuti anda, dia mungkin malah
akan menjawab:
“atas dasar apa anda menjadikanku sebagai penentang argumen pertama
anda, padahal kebanyakan ilmuwan berselisih pendapat dengan anda?’ aku
tidak bisa membayangkan jawaban anda. Apakah anda akan menjawab bahwa
Imam saya telah ditentukan oleh nass?. Lalu siapa yang akan mempercayai
dalil nass, jika ia tidak mendengar nass itu dari Rasul? Apalagi jika
mereka mendengarkan pendapat para ulama akan rekayasa dan kebohongan
anda? Kemudian anggaplah ia menerima nass yang anda ajukan ini, tetap
saja jika ia masih bingung dalam masalah pokok kenabian ( Nubuwwah ).
Maka ia akan bilang: “Anggap saja misalnya, jika Imam anda menunjukan
mu‘jizat ‘Isa sambil berkata, “dalil atas kebenaranku adalah bahwa aku
telah menghidupkan bapakmu. Aku menghidupkannya, lalu ia berbicara
kepadaku bahwa ia benar”, lalu dengan apa ia mengetahui kebenarannya?.
Padahal segenap makhluk juga tidak mengetahui kebenaran Isa dengan
mukjizat ini. Bahkan orang itu malah akan lebih banyak mengajukan
sejumlah pertanyaan lagi yang tidak bisa dijawab kecuali dengan
penalaran logika yang terinci, padahal logika yang terinci tidak anda
kuasai. Orang ini tidak akan mengetahui perbandingan kebenaran mukjizat
selama ia tidak mengetahui sihir dan perbedaannya dengan mukjizat. Dan
selama ia tidak mengetahui bahwa Allah tidak akan menyesatkan
hamba-hamba-Nya. Biasanya, orang seperti ini mengajukan pertanyaan yang
menyesatkan dan susah untuk dijawab. Lalu dengan apa ia menjawab semua
itu? Padahal Imam anda adalah bukan orang yang pantas diikuti oleh
penentangnya? Mungkin ia akan merujuk pada dalil-dalil teoritik,
sementara musuhnya juga menguraikan dalil yang sama, bahkan bisa lebih
jelas”.
Pertanyaan ini telah berbalik pada mereka dengan sangat dahsyat. Jika
seluruh penganut faham aliran ini dari yang pertama hingga yang
terakhir berkumpul untuk berusaha mencari jawabannya, niscaya mereka
tidak akan mampu. Melainkan hanya akan semakin memunculkan kerusakan di
tubuh jamaah-nya dengan perdebatan antar mereka sendiri, karena mereka
tidak memperhatikan soal nuarani, dan lebih hanya menyibukan diri dengan
jawaban. Inilah yang akan membuat mereka berdebat panjang, dan tidak
cepat-cepat memahami persoalan, sehingga argumentasi mereka pun akan
buntu.
Jika ada yang mengatakan:P
“ ini kan masalah hati. Apakah ada jawaban tentang masalah ini?” maka akan saya katakana:
“Ya, ada. Jika si orang bingung dan kalut mengeluhkan dirinya
kebingungan tanpa mengemukakan masalah yang dibingungkannya, ia bisa
dikatakan seperti orang yang mengeluh sakit tanpa menyebutkan jenis
sakitnya, kemudian minta disembuhkan. Maka dikatakan kepadanya: tidak
ada di dunia wujud ini obat penyembuhan bagi semua penyakit, bahkan
untuk menyembuhkan sakit tertenu saja seperti pusing, mencret dan selain
itu saja agak susah. Dengan demikian, si orang bingung harus bisa
menetukan masalah yang di bingungkannya. Maka masalah itu sendirilah
yang akan mengenalkannya pada kebenaran di dalamnya dengan menimbangnya
menggunakan kelima timbangan yang tidak bisa difahami oleh siapa pun,
kecuali jika ia mau mengakui bahwa itu adalah mizan kebenaran yang cocok
untuk segala hal yang perlu ditimbang.
Dengan begitu, ia akan paham dengan timbangan itu serta mengetahui
pula kesahihan timbangan (neraca), sebagaimana pemahaman orang yang
belajar berhitung pada berhitung itu sendiri, serta pemahamannya atas
keberadaan guru sebagai pengajar berhitung yang benar. Hal ini telah
kujelaskan panjang lebar dalam kitab
al-Qistas al-Mustaqim yang hanya setebal 20 halaman. Maka pelajarilah!.
Sekarang tujuan dan maksud bukan untuk mengurai keburukan mazhab mereka. Hal itu sudah aku jelaskan, pertama dalam kitab
al-Mustazha, dan yang kedua dalam kitab
Hujjah al-Haqq
yang merupakan jawaban atas pernyataan mereka yang diajukan padaku
sewaktu di Baghdad. Ketiga, aku menerangkannya juga dalam kitab
Mufassil al-Khilaf yang berisi 12 pasal, yang merupakan jawaban-jawabanku atas pertanyaan yang diajukan di Hamazan. Keempat dalam kitab ‘
ad-Darj’
yang disertai juga dengan tabel, yang merupakan bantahan atas
pernyataan mereka yang diajukan padaku sewaktu di kota Tus. Dan kelima
aku mencantumkannya pula dalam kitab
al-Qistas al-Mustaqim,
yang merupakan kitab yang berdiri sendiri dengan misi menjelaskan neraca
untuk menimbang kebenaran ilmu dan menunjukan ketidak perluan Imam
ma‘sum bagi yang merindukannya.
Namun maksud penjelasan jawaban atas mereka sekarang ini adalah untuk
menunjukan bahwa mereka tidak memiliki obat apa-apa, yang bisa
menyelamatkan mereka dari kegelapan pemikiran dan pendapat. Tapi
menunjukkan pada kelemahan mereka pada argumentasi mereka tentang
penunjukan Imam. Kami coba mereka dengan membenarkan mereka dalam hal
dibutuhkannya belajar dan seorang pengajar ma‘sum. Pengajar yang ma‘sum
inilah yang mereka tentukan. Kemudian kami pun menanyakan pada mereka
ihwal ilmu yang mereka pelajari dari pengajar yang ma‘sum ini.
Selanjutnya kami ajukan pada mereka beberapa persoalan, tapi mereka
malah tidak faham dengan persoalan tersebut, apalagi memecahkannya. Dan
ketika mereka tidak mampu menjawabnya, mereka lalu menyerahkannya pada
sang Imam al-Ga’ib sambil berkata: “kami harus pergi ke tempatnya”.
Naifnya, mereka telah menyia-nyiakan umur mereka hanya untuk mencari
sang guru dan bualan mereka akan kebahagiaan menemuinya, bahkan mereka
tidak mendapatkan ilmu apa-apa dari sang guru yang hilang ini. Maka,
mereka seperti orang yang memakai wewangian najis yang kelelahan mencari
air, namun setelah menemukannya, ia tidak bisa mempergunakannya dan ia
pun tetap berwewangian kotoran.
Di antara mereka ada yang mengaku telah mamperoleh sedikit ilmu dari
mereka. Namun hasil yang mereka peroleh adalah secuil ilmu filsafat
phitagoras yang merupakan seorang tokoh filsuf kuno dimana mazhabnya
adalah mazhab yang paling lemah dalam bidang filsafat. Aristoteles telah
membantahnya habis-habisan. Ia menganggap lemah dan merendahkan segala
pendapat dan pernyataan phitagoras. Orang itu adalah sang penutur dalam
kitab “Ikhwan as-Safa”. Dia benar-benar berada dalam jurang filsafat.
Orang yang telah bersusah payah sepanjang usianya untuk mencari ilmu,
akhirnya hanya puas dengan ilmu yang sangat lemah seperti ini. Bahkan ia
menyangka bahwa dengan meraih itu ia telah mencapai puncak dari ilmu
pengetahuan.
Kami juga mencoba mereka dengan menguji lahir batin mereka. Mereka
Pada dasarnya berusaha merayu secara halus kepada kalangan awam dan
lemah pikiran agar masuk ke dalam jamaah mereka sambil menjelaskan
pentingnya seorang guru dan mendebat setiap orang yang mengingkari
kebutuhan akan pengajaran dengan argumentasi yang kuat dan meyakinkan.
Sehingga jika ada penolong yang membantu mereka dalam upaya memenuhi
kebutuhan pada seorang pengajar berkata:
“Tunjukan ilmu sang Guru dan kami akan memanfaatkan pengajarannya!”, mereka akan berhenti dan berkata:
“sekarang jika memang anda menyerahkan hal ini padaku, maka mintalah.
Tetapi, materiku hanya sekedar ini saja”. Dengan demikian jadi
ketahuan, karena mereka menyadari bahwa jika melebihi hal itu maka
mereka akan tersingkap kekurangannya. Mereka tidak akan mampu memecahkan
persoalan yang sepele sekalipun, bahkan tidak akan mampu memahami
apalagi menjawabnya. Demikianlah sesungguhnya kondisi nyata mereka.
TAREKAT-TAREKAT SUFI
Kemudian setelah menyelesaikann pembahasan ilmu-ilmu sebelumya, saya
mengalihkan sepenuh perhatian pada jalan sufisme. Saya pelajari bahwa
tarekat mereka merupakan perpaduan antara ilmu dan amal. Tujuan amalan
mereka adalah memutus halangan dan rintangan jiwa untuk kemudian
mensucikan diri dari akhlak-akhlak jiwa yang tercela dan dari
sifat-sifat keji, sehingga ia mencapai pengosongan hati dari selain
Allah dan menghiasinya dengan zikir kepada Allah .
Karena ilmu lebih mudah bagi saya dari pada amal, maka saya memulai
penelaahan bidang keilmuan mereka dengan menelaah kitab-kitabnya,
seperti
Qut al-Qulub karya Abu Talib al-Makki –semoga Allah
merahmatinya, karya-karya al-Haris al-Muhasibi, rumusan-rumusan
al-junayd, asy-Syibli, Abu Yazid al-Bustami –semoga Allah mensucikan
arwah mereka, dan rumusan-rumusan dari syekh-syekh sufi lainnya,
sehingga saya bisa mencapai inti dari tujuan ilmu mereka.
Saya meraih apa yang telah diperoleh dari jalan sufi ini melalui
belajar dan menyimak. Tampak olehku bahwa ilmu khusus mereka, tidak
mungkin diraih hanya dengan belajar melainkan harus dengan menggunakan
intuisi , pengenalan kondisi (hal), dan perubahan sifat-sifat. Betapa
banyak konsepsi mereka tentang definisi sehat dan kenyang serta sarana
dan syarat untuk memperoleh sehat dan kenyang, tentang orang yang sehat
dan orang yang kenyang. Tentang batasan antara gila (extase) yang
merupakan perumpamaan dari kondisi yang telah teraih dengan menelan asap
yang naik dari perut ke pusat pikiran dan menjadi orang yang mabuk.
Bahkan orang yang sedang extase tidak akan pernah mengetahui batasan
extase, dan juga pengetahuan akan kemabukan dirinya dan pengetahuan
yang lainnya. Sementara orang-orang yang tersadar mengetahui batasan
mabuk, bahkan faktorfaktor penting dan hal-hal yang terkait dengan
masalah mabuk.
Seorang dokter yang berada dalam keadaan sakit, ia mengetahui batasan
sakit, penyebab dan obatnya, meskipun ia kehilangan kesehatan. Begitu
juga berbeda antara anda yang mengetahui hakikat zuhud, syarat-syarat
dan sarana untuk menggapainya, dengan keadaanmu sendiri yang berada
dalam zuhud dengan jiwa yang berpaling dari keduniaan.
Aku menjadi yakin bahwa mereka adalah pengendali prilaku perbuatan,
dan bukan tukang omong. Apa yang bisa didapat dengan jalan ilmu, telah
aku dapatkan, tinggal sekarang hal yang tidak bisa diperoleh dengan
jalan menyimak dan belajar, melainkan dengan intuisi (cita rasa) dan
menyusuri jalan (tarekat). Dari ilmu-ilmu yang saya amalkan serta
laku-laku yang saya telusuri dalam meneliti kedua kategori ilmu, yaitu
syara’ (fiqih/normative agama) dan logika keilmuan (rasional akal),
saya telah mendapatkan keyakinan yang mencapai tarap tidak teragukan
lagi akan Allah Swt., kenabian dan hari akhir. Ketiga pokok keimanan ini
telah mengakar kokoh dalam diri saya, bukan dengan teori-teori tertentu
yang bisa mudah dijelaskan, melainkan dengan sarana-sarana,
permisalan-permisalan (indikasi) dan pengalaman-pengalaman yang tidak
bisa dijelaskan uraiannya.
Tiada lagi obsesi dalam diriku untuk meraih kebahagiaan akhirat
kecuali dengan jalan taqwa dan mengekang diri dari hawa nafsu. Dan yang
lebih utama lagi adalah memutuskan keterkaitan hati pada kedunawian
dengan mengekang diri dari ‘rumah tipuan’ untuk kemudian bertaubat
kembali pada ‘rumah keabadian’ dan menerima inti harapan pada Allah
swt. Semua itu tidak akan terwujud sempurna kecuali dengan menolak
segala kehormatan dan harta, serta berpaling dari segala yang
menyibukkan dan berkaitan dengan dunia.
Maka saya pun langsung menyelidiki keadaan diri saya. Ternyata saya
telah tenggelam dalam simpul-simpuln keduniwian. Saya juga memandang
diri saya dari segala segi. Saya amati amalan-amalan saya terutama
aktivitas mengajar. Ternyata saya juga telah terjebak menerima dan
mengajarkan ilmu-ilmu yang tidak penting dan tidak bermanfaat untuk
kebahagiaan akhirat. Saya selidiki juga niat saya dalam mengajar,
ternyata niat itu juga tidak murni untuk Allah semata, melainkan
didorong oleh pencarian kehormatan dan keharuman nama. Dari sini saya
yakin bahwa saya berada ditepi jurang neraka. Aku tidak akan selamat
dari jilatan api neraka, jika tidak bersegera memperbaiki keadaan diri
tersebut.
Selama beberapa waktu saya terus dicekam pikiran bahwa saya telah
jauh dari maqam pilihan. Saya pun merencanakan niat bahwa pada suatu
saat kelak untuk keluar dari kota Baghdad dan meninggalkan
kondisi-kondisi yang ada selanjutnya menuruti azam (niat) dengan
melangkahkan kaki bersegera pergi. Pagi-pagi aku memang terobsesi
mencari akhirat, namun ia selalu ditumpangi oleh pasukan hawa nafsu,
sehingga tercerai-berai lagi pada sore harinya. Syahwat keduniaan begitu
kuat menarikku dengan segala tali pengikatnya, sementara panggilan
keimanan terus mendengungkan nasihatnya:
“pergi! Pergi! Umurmu hanya tinggal sedikit, sementara di depanmu
masih terbentang jalan yang maha panjang, padahal semua yang ada padamu
baik ilmu maupun amal, hanyalah riya‘ dan imajinasi. Maka jika kamu
tidak pergi sekarang, kapan lagi kamu akan bersiap untuk menghadapi
akhirat? Jika tidak kau putus sekarang kaitan-kaitan itu, terus kapan
lagi? Ketika itulah hasrat untuk menyingkir dan meninggalkan keduniwian
semakin kuat. Selanjutnya, datang setan menggoda:
“ini hanyalah rintangan, kamu harus bisa menundukannya. Ia akan cepat
menghilang. Jika kamu mendengarkannya dan meninggalkan segala kemuliaan
yang ada, kedudukan nyaman yang sepi dari segala gangguan dan
goncangan, serta keamanan dan ketentraman yang bersih dari konflik
permusuhan. Mungkin ia akan berpaling darimu dan engkau tidak akan
pernah kembali lagi”.
Aku masih terus dicekam kebimbangan di antara tarikan syahwat
keduniwian dan dorongan akhirat selama kurang lebih 6 bulan. Puncaknya
terjadai pada bulan Rajab 488 H. Saat itu, masalah ini telah melebihi
batas maksimal kemampuanku. Allah telah mengunci mulutku sehingga aku
terpaksa berhenti mengajar. Suatu hari, aku pernah mengajar demi
menyenangkan hati orang-orang yang berkunjung ke majlisku. Namun,
mulutku sama sekali tidak bisa mengucap meski hanya satu kata. Gagu
dalam mulutku ini telah menorehkan kesedihan tersendiri dalam hati,
hingga merusak system pencernaan dan nafsu makanku. Aku tidak bisa makan
meski hanya mengunyah bubur, dan menelan sesuap makanan. Sehingga
kekuatan tubuhku semakin lemah dan menurun. Sampai-sampai para dokter
pun telah putus harapan akan kesembuhanku. Mereka berkata:
“ada sesuatu yang turun di hati, dan dari sana naik ke otak. Maka
tidak ada lagi jalan kesembuhan kecuali dengan mengurai rahasia tentang
beratnya beban yang menghimpit”.
Tatkala kurasakan kelemahan diri dan tuntasnya usaha maksimal yang
telah kulakukan, aku bersimpuh meminta kekuatan kepada Allah sebagai
orang yang tidak berdaya. Maka Tuhan adalah Yang Maha Menjawab atas do‘a
orang yang sedang ditimpa kesusahan bila ia memohon kepada-Nya. Allah
kemudian memudahkan hatiku untuk berpaling dari segala kehormatan,
harta, anak-anak dan rekan sejawat.
Kusampaikan hasratku untuk pergi ke Mekah sambil menyusun rencana
untuk menetap di Syam ( Damaskus), karena aku tidak mau khalifah (Raja)
dan beberapa rekan sejawat, menghalangi keinginanku untuk tinggal di
negeri Syam. Aku pun bertindak dengan penuh taktis untuk keluar dari
kota Baghdad sambil berjanji kuat tidak akan kembali lagi selamanya.
Kukunjungi seluruh Imam-imam Irak. Tidak ada diantara mereka yang
membolehkan kepergianku dari posisi yang kujabat dan segala jabatan
hidupku sebagai bagian dari bidang agama. Mereka menganggap semua
jabatan dan ketenaran adalah posisi tertinggi dalam agama serta puncak
dari ambisi keilmuan mereka.
Banyak orang yang terperangah kaget dengan simpang-siurnya alasan
keputusanku. Orang yang jauh dari Baghdad berpikiran bahwa kepergianku
dari Baghdad merupakan penyingkiran oleh pihak penguasa. Sementara orang
yang dekat dengan lingkaran kekuasaan, melihat dengan sendirinya
simpati dan dedikasi penguasa terhadapku, aku berpaling dari mereka dan
tidak mengindahkan permintaan mereka untuk tetap tinggal di Baghdad.
Orang-orang ini berkomentar:
“Ini adalah urusan langit yang tanpa memiliki sebab-musabab, kecuali
merupakan musibah yang menimpa ummat Islam dan kalangan akademisi”.
Aku tinggalkan Baghdad dan meninggalkan semua ambisi yang saya
miliki. Aku hanya membawa sekedar keperluan secukupnya untuk hidup dan
bekal anak-anak. Seluruh kekayaan di Baghdad aku wakafkan demi
kemaslahatan kaum Muslimin. Aku tidak melihat di dunia ini kekayaan yang
diambil oleh seorang ulama untuk keluarganya yang lebih baik dari pada
itu.
Aku kemudian masuk dan menetap di Syam kurang lebih dua tahun. Tidak
ada kesibukan yang aku lakukan selain hanya uzlah, khalwah, riyadah, dan
mujahadah demi mensucikan jiwa, menata akhlaq dan memurnikan hati untuk
selalu ingat kepada Allah Swt. sebagaimana yang aku dapatkan dari ilmu
tasawwuf. Aku selalu beri‘tikaf beberapa waktu di mesjid Damaskus, untuk
kemudian naik ke menara mesjid sepanjang siang dan mengunci pintunya
rapat-rapat.
Dari sana , aku kemudian mengadakan perjalanan ke Bait al-Maqdis
(yerusalem). Setiap hari aku masuk masjid. Di sana aku juga menutup
pintu masjid sendirian. Selanjutnya muncul panggilan untuk menunaikan
ibadah Hajji dan menyerap barakah kota Makkah dan Madinah, serta
menziarahi makam Rasulullah Saw. selepas menjiarahi makam al-Khalil,
Nabi Ibrahim As. Maka aku pun mengadakan perjalanan ke Hijaz (kota
Makkah dan Madinah).
Kemudian panggilan dan kerinduan pada anak-anak menarik aku kembali
ke tanah air. Aku pun pulang setelah menjadi makhluk yang paling jauh
untuk kembali. Di sana aku tetap membiasakan uzlah demi menjaga khalwah
dan pensucian hati untuk zikir. Peristiwa-peristiwa dalam perjalanan,
kewajiban terhadap keluarga dan kebutuhan dasar hidup telah mengubah
maksud tujuan dalam diriku serta mengacaukan kesucian khalwah. Memang,
kesucian adalah sesuatu yang belum pernah aku dapatkan keculai hanya
kadang-kadang saja, namun aku terus berambisi untuk meraihnya. Banyak
rintangan yang menjauhkan saya dari khalwah, namun saya terus mencoba
kembali dan kembali berkhalwah. Keadaan ini berlangsung selama 10 tahun.
Dalam laku khalwah yang panjang ini telah banyak tersingkap ihwal
yang tidak bisa dihitung dan disebutkan. Sekadar yang aku ingat agar
pembaca bisa mengambil manfaatnya adalah: “Aku menjadi yakin bahwa kaum
Sufi adalah orang yang pertama-tama secara khusus merambah jalan Allah.
Mereka adalah orang yang paling baik kelakuannya, jalan mereka adalah
yang terbenar, akhlak mereka adalah yang tersuci. Bahkan kalau segenap
teori akal kaum pemikir, hikmah kaum penasehat, dan ilmu para ulama yang
mengetahui seluk beluk syari‘at, dikumpulkan untuk mengubah sedikit
saja dari jalan hidup dan akhlak mereka untuk menggantinya dengan yang
lebih baik, maka mereka semua tidak akan bisa mendapatkan jalan dan
caranya. Karena semua gerakan dan diam mereka, dalam laku zahir dan
batin mereka diguyur oleh cahaya kenabian. Dan tidak ada cahaya di atas
muka bumi ini yang lebih terang dari cahaya Kenabian.
Termasuk sarat utama yang pertama jalan kesucian mereka adalah
membersihkan hati secara total dari selain Allah Swt. Kunci menuju ke
sana adalah menenggelamkan hati secara total dalam lautan zikir Allah
dan jalan terahir adalah tenggelam dalam fana (peleburan) secara total
dalam Allah. Inilah yang sebenarnya disebut jalan tarekat pertama,
sedangkan ritual sebelumnya hanyalah seperti pemanasan bagi para
pelakunya.
Dari awal tarekat inilah dimulai musyahadah (penyaksian) dan
mukasyafah (penyingkapan), sehingga dalam kesadarannya, mereka bisa
menyaksikan Malaikat dan arwah para Nabi, meraih suara-suara tuntunan
dari mereka dan memungut faedah-faedah dari mereka. Selanjutnya
derajatnya naik dari menyaksikan gambaran-gambaran dan simbol-simbol
pemisalan ke drajat yang tidak memberikan ruang untuk berbicara. Upaya
untuk mengungkapkannya malah akan mengandung kesalahan yang tidak
mungkin bisa untuk dihindarkan lagi.
Semua laku tasawwuf ini berakhir pada kedekatan (qurb) yang
diimajinasikan oleh sebagian kalangan tasawwuf sebagai al-hulul,
al-Ittihad ( manunggal ) dan al-Wusul (sampai). Kami telah menjelaskan
titik-titik kesalahan persepsi ini dalam kitab ‘al-Maqsad al-Asna’.
Lebih lanjut kekeliruan memahami kondisi qurb ini tidak boleh lebih dari
yang dikatakan sebagai:
Dan yang ada adalah apa yang ada
Yang aku tidak mengingatnya
sangkalah baik
Dan jangan kau Tanya tentang apa itu baik.
Pendek kata barang siapa yang belum dikaruniai sedikit zauq (rasa
intuisi), maka ia tidak akan bisa menggapai hakikat kenabian kecuali
hanya sekedar nama. Dan karamah ( kekuatan adiluhung ) para wali
sebenarnya adalah permulaan prestasi kenabian para Nabi.
Kondisi (hal) demikian yang pertama dialami oleh Rasulullah Saw.
beliau tabattul (pantangan untuk tidak melakukan hubungan seksual) dan
mengasingkan diri di Gua Hira sambil beribadah dan ber-khalwah dengan
Tuhannya. Sehingga orang-orang Arab mengatainya:
“Muhammad telah rindu tergila-gila pada Tuhannya”. Kondisi ini hanya
bisa terwujud dengan zauq orang yang menempuh jalannya. Barang siapa
yang belum dikaruniai zauq, maka ia sebaiknya memantapkan jalannya
dengan terus mencoba dan sering mendengarkan jika saja mereka mempunyai
banyak kawan, sampai kondisi zauq bisa dipahami secara meyakinkan. Dan
orang yang ikut berkumpul dalam majelis mereka pun bisa mengambil
manfaat keimanan ini. Mereka adalah kalangan yang tidak memiskinkan
teman duduknya. Barang siapa yang belum dikaruniai jalinan persahabatan
dengan mereka, maka ketahuilah olehnya dengan segala keyakinannya
bahwasannya hal itu bisa terungkap dengan penjelasan-penjelasan teoritis
seperti yang kami uraikan dalam pasal ‘Ajaib al-Qalb’ (
keajaiban-keajaiban Hati ) pada kitab Ihya‘ulumddin.
Pendalaman dengan teori dan bukti adalah ilmu (
pengetahuan ), sementara melibatkan diri dalam kondisi tersebut adalah
zauq ( perasaan ), dan penerimaan dengan toleransi dan mencoba dengan
baik sangka adalah iman ( kepercayaan ). Inilah tiga tingkatan yang
disebutkan oleh Allah dalam firman:
“Allah mengangkat orang-orang yang beriman diantara kamu dan
orang-orang yang berilmu beberapa derajat”.(Q.S. al-Mujaddalah [58]:
11).
Selebihnya adalah mereka kaum bodoh. Mereka mengingkari inti
persoalan dan kaum yang hanya tercengang dengan uraian kata-kata.
Mereka mendengarkan, lalu mencemooh, “Aneh sekali! Mereka hanya
mengigau!” Allah menyinggung mereka dalam firman-Nya:
“dan diantara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga
apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang
telah diberi ilmu pengetahuan [sahabat-sahabat Nabi]: apa gerangan yang
diucapkannya tadi?. Mereka itulah orang-orang yang telah dikunci mati
hatinya oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu”. (Q.S. Muhammad [47]: 16).
Allah telah mendungukan pendengaran dan membutakan mata hati mereka.
Yang tampak oleh saya dari praktik tarekat mereka adalah hakikat dan
karakter kenabian. Karena itu, hal ini harus dijelasakan secara
tersendiri karena teramat diperlukan.
HAKIKAT KENABIAN DAN PENTINGNYA KONSEP KENABIAN BAGI SEGENAP MAKHLUK
Ketahuilah! Sebenarnya esensi manusia pada awal penciptaannya tidak
mengetahui informasi apa-apa tentang ilmu-ilmu Allah yang sangat banyak.
Dimana tak seorangpun mampu menghitung jumlahnya, kecuali oleh Allah
Swt. Hal ini sebagaimana firman-Nya:
“Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri”. (Q.S. al-Muddatsir [74]: 31).
Informasi manusia tentang fenomena ketuhanan lebih banyak diperoleh
lewat apresiasi (idrak) yang diciptakan oleh Allah agar manusia
mengetahui fenomena dari wujud ( keberadaan ). Fenomena yang kami
maksudkan di sini adalah beragam jenis wujud.
Hal pertama yang diciptakan dalam diri manusia adalah indera sentuh
perasa. Dengan indera ini, manusia bisa mengetahui jenis-jenis realitas
wujud seperti panas,dingin, basah dan kering, lunak dan keras, dan
lainnya. Indera perasa tidak menjangkau untuk mengetahui warna-warna dan
suara, bahkan fungsi seperti ini nyaris tidak ada sama sekali bagi
indera sentuh.
Selanjutnya diciptakanlah untuknya indera penglihatan, sehingga ia
bisa mengetahui warna dan bentuk. Indera ini adalah indera yang paling
luas dalam menangkap tanda obyek-obyek fisik material.
Kemudian ditiupkanlah di dalamnya pendengaran, denganya manusia bisa
mendengar suara dan nada. Setelah itu baru diciptakan zauq (rasa
intuisi) sehingga manusia mampu melampaui dunia materi. Lalu diciptakan
Tamyiz (kemampuan membedakan) dalam diri manusia saat ia berusia 7
tahun. Ini adalah fase lain dari rangkaian tahap-tahap wujud manusia.
Dalam fase ini, manusia bisa menangkap hal-hal di luar dunia fisik yang tidak ditemukan sama sekali di dunia indera.
Manusia kemudian naik ke fase berikutnya. Maka diciptakanlah “akal”
dalam dirinya, sehingga ia mampu mengetahui hal-hal yang wajib, boleh,
dan mustahil, serta hal-hal yang tidak ditemukannya dalam fase-fase
sebelumnya. Di belakang akal terdapat fase lain lagi. Dimana dalam fase
tersebut terbuka mata lain yang bisa melihat alam gaib dan masa depan,
serta hal-hal lain di mana fungsi akal terhilangkan, sebagaimana
hilangnya kemampuan membedakan (tamyiz) oleh pengetahuan akal, juga
hilangnya fungsi kekuatan indera oleh fungsi pengetahuan membedakan
(tamyiz). Sebagaimana penolakan dan pengabaiannya anak yang telah
mempunyai kemampuan membedakan pada hal-hal yang hanya diketahui dengan
akal. Maka begitu pun juga beberapa orang berakal akan menolak dan
memungkiri pengetahuan tentang kenabian (Nubuwwah). Hal tersebut lebih
berdasar kebodohan dan ketidaktahuan mereka, karena itu adalah fase yang
belum ia capai dan tidak terdapat pula dalam haknya. Sehingga ia pun
berpikiran bahwa hal itu tidak ada dalam dirinya.
Seorang tuna netra jika ia tidak mengetahui warna-warna dan bentuk
dengan jalan pengelihatan dan pendengaran, kemudian diberi tahu bahwa
hal itu adalah ‘hal permulaan’, maka ia pun tidak akan memahami, bahkan
tidak mengakuinya.
Melihat hal demikian, Allah pun mendekatkan pemahaman tentang
Nubuwwah dengan cara memberi mereka contoh dari keistimewaan kenabian,
yaitu dengan tidur. Orang tidur mengetahui masalah gaib yang akan
terjadi, baik secara terang dan jelas, maupun secara tersembunyi yang
kemudian diungkap melalui ta‘bir mimpi. Namun jika hal ini belum pernah
dialami sendiri oleh manusia, mereka pasti akan memungkirinya. Misalnya,
ketika dikatakan pada mereka, “jika manusia pingsan tak sadarkan diri,
ia seperti mayat, kehilangan fungsi indera, pendengaran dan
penglihatannya, namun ia bisa mengetahui hal gaib”, maka mereka pun akan
menjawab dengan menyatakan alasan yang menyatakan kemustahilannya:
“daya sensitivitas indera adalah sarana mengetahui. Orang saja tidak
mengetahui segala sesuatu dengan keberadaan dan kehadiran inderanya,
apalagi dalam ketidak fungsiannya, tentunya ia akan lebih tidak tahu”.
Ini adalah bentuk analogi yang ditolak mentah-mentah oleh wujud dan
musyahadah. Sebagaimana akal merupakan salah satu fase kehidupan anak
Adam di mana manusia memperoleh ‘mata hati’ untuk melihat segala bentuk
yang bisa dipikirkan yang tidak dapat di lihat dengan indera, maka
begitu juga nubuwwah. Ia juga merupakan fase, di mana anak Adam
memperoleh ‘mata’ yang mempunyai cahaya, yang dengan cahaya tersebut
nampak segala kegaiban dan hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal.
Keraguan akan konsep nubuwwah mungkin akan terletak pada potensinya,
wujud dan proses terjadinya, atau dalam realisasinya pada orang
tertentu. Sementara kapasitas teori dan wujudnya sebagai bentuk
pengetahuan di dunia, jelas tidak bisa dijangkau oleh akal. Ia seperti
ilmu kedokteran dan astronomi. Siapa pun yang menyelidikinya, ia akan
tahu dengan pasti bahwa nubuwwah ini tidak bisa diketahui kecuali dengan
ilham Tuhan dan Taufiq pertolongan Allah, serta tidak ada jalan ke sana
kecuali dengan pengalaman. Hukum-hukum perbintangan misalnya, ada yang
terjadi hanya sekali dalam setiap 1000 tahun, lalu bagaimana hal itu
akan diperoleh dengan pengalaman? Begitu juga obat-obat khusus.
Dengan bukti teoritis ini, jelas bahwa potensi wujud merupakan jalan
menuju pengetahuan pada hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal ini.
Inilah yang dimaksud dengan nubuwwah. Bukan saja ia merupakan penjelasan
tentangnya, melainkan lebih karena pengetahuan akan jenis di luar
jangkauan akal ini, merupakan salah satu kehususan nubuwwah. Disamping
kehususan lain yang masih banyak. Apa yang barusan kami kemukakan hanya
merupakan setetes air lautan. Itu pun lebih dikarenakan anda sudah
memiliki contoh tentang apa yang anda ketahui dalam kondisi tidur. Juga
karena anda memiliki padanan jenis pengetahuan ini dalam disiplin
kedokteran dan astronomi. Nubuwwah adalah mu‘jizat para Nabi yang tidak
pernah bisa digapai oleh orang-orang yang berakal dengan hanya berbekal
akalnya saja.
Adapun hal yang di luar kehususan nubuwwah, seperti suluk tasawwuf,
ia bisa dicapai dengan zauq. Sebab hal ini bisa langsung anda fahami
dengan hanya lewat contoh yang anda hasilkan sendiri, yaitu tidur. Jika
bukan karena ini, anda pasti tidak akan mempercayai dan membenarkannya.
Contoh ini dihasilkan pada awal-awal jalan tasawwuf, yang kemudian
menghasilkan jenis zauq dalam kadar tertentu , serta jenis pembenaran
akan hal yang tidak bisa diperoleh dengan analogi. Satu contoh
kekhususan ini sudah cukup bagi anda untuk mengimani dan mempercayai
orisinalitas nubuwwah.
Jika anda masih ragu dan bimbang pada seseorang, apakah dia Nabi atau
tidak. Maka selamanya, keyakinan tidak akan diperoleh kecuali dengan
mengetahui hal ihwal orang tersebut, baik melalui cara menyaksikan
sendiri, penggambaran atau pun mendengar. Misalnya jika anda mengetahui
disiplin kedokteran dan fiqh, pastilah anda akan bisa mengetahui para
pakar kedokteran dan fiqh, baik dengan jalan menyaksikan langsung kerja
mereka, atau dengan mendengarkan pernyataan
mereka.Jika memang anda terpaksa tidak bisa menyaksikan secara langsung.
Sebagaimana anda juga tidak akan terlalu sulit menyaksikan kebenaran
Imam Syafi‘i sebagai ahli fiqh, atau Galinos sebagai seorang dokter,
dengan pengetahuan yang hakiki dan benar-benar, bukan dengan
ikut-ikutan pada orang lain, melainkan dangan mempelajari karya fiqh dan
kedokteran, menelaah kitab-kitab dan karangan mereka berdua. Maka di
sini anda pun akan memperoleh pengetahuan yang pasti akan kualitas
keduanya. Begitu pula halnya jika anda memahami makna nubuwwah, kemudian
memperbanyak penelaahan Alquran dan hadits-hadits, maka anda tentu akan
mendapat pengetahuan yang pasti akan kenabian Muhammad sebagai derajat
tertinggi kenabian. Akan lebih kuat lagi, jika anda mencoba untuk
menerapkan apa yang disabdakan beliau dalam ritual ibadah dan fungsinya
dalam membersihkan hati. Betapa benarnya beliau ketika bersabda,
“Barang siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan
menganugerahinya ilmu yang belum ia ketahui”. Dan betapa benarnya beliau
saat bersabda:
“Barang siapa di saat pagi hari perhatianya hanya satu, maka Allah akan mencukupkannya dari kegelisahan dunia dan akhirat”.
Jika anda mau mengamalkan petuah-petuah kenabian tersebut dalam
1000, 2000, bahkan ribuan kali, niscaya anda akan memperoleh ilmu yang
tidak akan diragukan lagi.
Dengan jalan demikianlah sebaiknya anda mencari keyakinan akan
nubuwwah, bukan dengan teori pengubahan tongkat menjadi ular, atau
pembelahan bulan. Sebab jika anda melihat hal-hal terakhir ini saja
tanpa dukungan banyak faktor yang tiada terhitung, mungkin anda malah
akan menyangkanya sebagai sihir dan imajinasi. Dan hal ini pun
mendapatkan sandaran dari firman Allah Swt.,
“Dia menyesatkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan memberi
petunjuk kepada siapa saja yang dindaki-Nya”. (Q.S. Fatir [35]: 8).
Ia dicekam oleh banyak pertanyaan tentang mukjizat. Dan jika anda
menyandarkan keimanan anda akan hal tersebut pada perkataan yang
tersusun dalam menghadapi aspek pertunjukkan mukjizat, serta pada
perkataan yang runtut (kalam murattab) dalam menghadapi blunder dan
syubhat di atasnya, maka hal-hal di luar kebiasaan ini pun dalam
pandangan anda akan menjadi salah satu dalil dan factor penentu. Dengan
begitu, anda akan mendapat pengetahuan pasti (daruri), meski anda tidak
mungkin bisa menyebutkan penyandarannya pada hal tertentu. Kenyataan ini
seperti orang yang diberi informasi oleh sekelompok orang, maka ia
tidak bisa langsung menegaskan bahwa keyakinanya diperoleh dari
pernyataan tersebut, dan bukan dari seseorang tertentu. Inilah keyakinan
kuat yang ilmiah. Sementara itu, zauq (intuisi) lebih seperti
penyaksian dan berpegangan tangan. Zauq (intuisi) ini tidak ditemukan
kecuali dalam tarekat Sufisme.
Cukuplah kiranya penjelasan tentang hakikat kenabian ini bisa
memenuhi tujuan yang saya maksudkan sekarang. Dan selanjutnya akan saya
uraikan segi kebutuhan akan konsep kenabian .
DORONGAN MENYEBARKAN ILMU KEMBALI SETELAH MENINGGALKANNYA
Setelah menjalani uzlah dan menyepi diri selama hampir 10 tahun,
muncul dalam diriku bermacam motivasi yang tidak terhitung jumlahnya.
Sebagian diperoleh dengan zauq, sebagian lain dengan pemikiran teoritis
(burhani) dan sebagian lagi dengan unsur keimanan. Antara lain sebagai
berikut:
Manusia diciptakan dengan raga dan hati. Hati yang saya maksud ini
adalah hakikat ruh yang menjadi wadah ma‘rifat Allah tanpa daging dan
darah yang sama-sama dimiliki oleh mayat dan binatang. Badan mempunyai
potensi kesehatan yang menjadi sebab kebahagiaan manusia, juga mempunyai
potensi sakit yang menjadi sebab kesedihan dan kematiannya. Begitu juga
hati menyimpan potensi sehat dan selamat. Pada saat itu, tidak ada yang
selamat, “kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang
tulus” (Q.S. asy-Syu‘ara[42]:24). Dan ia pun mempunyai potensi sakit
yang menjadi pangkal abadi di akhirat, sebagaimana yang diisaratkan
dalam firman Allah, “Dalam hati mereka ada penyakit,”(Q.S. al-Baqarah
[2]: 10); “maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam
hatinya (orang-orang munafiq),”(Q.S. al-Maidah [5]: 52); “Ingatlah
ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang ada penyakit dalam
hatinya,” (Q.S. al- Anfal [8]: 49);“Dan adapun orang-orang yang di dalam
hatinya ada penyakit,”(Q.S. at-Tawbah [9]: 125);“ Bagi orang-orang yang
di dalam hatinya ada penyakit dan kasar hatinya,” (Q.S. al-Hajj [22]:
53); “Dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit,” (Q.S.
al-Ahzab [33]: 60); “Kami lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam
hatinya”, (Q.S. Muhammad [47]: 20); “Supaya orang yang di dalam hatinya
ada penyakit dan orang-orang kafir”. (Q.S. al- Mudatsir [74]: 31).
Kebodohan dan kelalaian pada Allah merupakan racun penghancur.
Perbuatan maksiat kepada Allah dan menuruti hawa nafsu adalah penyakit.
Penangkalnya adalah ma‘rifat, dan mentaati Allah dengan melawan hawa
nafsu adalah obat yang paling mujarab. Tidak ada terapi untuk mengobati
hati dan menjaga kesehatannya kecuali dengan obat-obatan ini sebagai
mana fungsi obat untuk badan. Sama halnya ketika obat-obatan untuk badan
berpengaruh bagi kesehatan tubuh lantaran khasiat khusus yang
terkandung didalamnya, yang tidak bisa dijangkau begitu saja oleh otak
orang berakal. Bahkan dalam mengkonsumsinya pun orang harus mengikuti
petunjuk dokter yang telah memperoleh rahasia khasiat-khasiat tersebut
dari para Nabi, yang mana mereka dengan kekhususan kenabiannya telah
mengetahui intisari segala perkara. Dengan demikian, jelas bagi saya
secara pasti bahwa obat-obatan ibadah dengan batasan dan kadar yang
telah ditentukan oleh para Nabi tidak bisa begitu saja diketahui dengan
akal saja, melainkan harus taklid mengikuti para Nabi yang telah
mendapatkan khasiat hal-hal tersebut dengan nur kenabian, bukannya
dengan akal.
Sebagaimana obat-obatan tersusun dari campuran komposisi yang
beragam, dimana masing-masing mempunyai ukuran dan kadar tersendiri yang
merupakan rahasia khasiat tersebut. Begitu juga ibadah yang merupakan
obat penyakit hati. Ia tersusun dari keragaman laku yang berbeda-beda
jenis dan kadarnya, serta menyimpan rahasia khasiat masing-masing yang
hanya bisa dijangkau dengan cahaya kenabian. Sujud misalnya, dua kali
lipat dalam ruku (dalam solat), dan salat shubuh separoh lebih sedikit
dari shalat ‘Asar dalam jumlah rakaatnya . Maka, bodoh dan tolol jika
ada orang yang ingin menngapresiasi hikmah di dalamnya dengan media
akal, atau berpikiran bahwa hal tersebut disebutkan secara kebetulan dan
bukan oleh rahasia Tuhan yang terkandung di dalamnya sebagai
konsekuensi menempuh jalan khusus. Dan sebagaimana juga obat-obatan yang
mempunyai inti primer yang merupakan unsur utama pembentuknya,
disamping zat tambahan yang merupakan pelengkapnya di mana masing-masing
memiliki kekhususan pengaruh dalam kerja inti primer, maka begitu pula
halnya dengan laku-laku ibadah sunnah. Ia lebih merupakan tambahan
pelengkap untuk menyempurnakan rukun-rukun ibadah.
Pendek kata, para nabi adalah dokter-dokter penyakit hati. Fungsi dan
kapasitas akal jika kita tahu hanyalah untuk bersaksi atas kebenaran
kenabian dan kelemahan dirinya untuk menjangkau pengetahuan dengan mata
kenabian. Akal seharusnya membimbing dan menyerah tundukan kita pada
kenabian sebagaimana ketundukan orang buta pada petunjuk si penuntunnya
dan ketundukan pasien yang kebingungan kepada dokter yang menyembuhkan.
Lebih dari itu, akal terpinggirkan, kecuali sebatas memahami apa yang
disampaikan dokter kepadanya. Inilah hal-hal yang kami ketahui dengan
cara musyahadah penyaksian selama masa uzlah dan khalwah.
Pada perkembangan selanjutnya, kami melihat pengikisan keyakinan pada
konsep kenabian, lalu pada hakikat kenabian, hingga pengikisan praktik
pengamalan beragam perintah yang sudah dijelaskan oleh kenabian. Kami
menemukan hal itu sudah banyak di tengah-tengah ummat. Kami melihat
kemalasan manusia dan kelemahan iman mereka yang dalam hal ini lebih
disebabkan oleh empat factor penyebab sebagai berikut:
1.Faktor penyebab yang berasal dari para pengkaji yang berkecimpung dalam disiplin filsafat.
2.Faktor penyebab yang berasal dari para pelaku tarekat tasawwuf.
3.Faktor penyebab yang berasal dari para pengikut mazhab Batiniyyah; dan
4.Faktor penyebab yang berasal dari interaksi sosial kaum terpelajar.
Selama beberapa waktu, saya mengadakan penyelidikan pada orang per
orang. Pada orang yang kurang aktif menjalankan syari‘at, saya tanyakan
mengenai keraguannya menjalankan syari‘at. Saya mengorek juga masalah
akidah dan rahasia mereka. Saya katakana pada mereka:
“Mengapa anda kurang dalam menjalankan syariat agama? Jika anda
mengimani hari akhir, tetapi anda tidak melakukan persiapan dalam
menghadapinya dan malah menjualnya dengan keduniaan, maka ini merupakan
sebuah kebodohan! Bukankah anda tidak mau menukar dua dengan harga satu,
lalu bagaimana bisa anda mempertaruhkan sesuatu yang tiada akhir dengan
hal yang sifatnya sementara dan bisa dihitung? Jika memang anda tidak
beriman, maka anda sudah kafir. Uruslah diri anda untuk mencari
keimanan. Telitilah penyebab kekafiran semu anda yang telah menjadi
mazhab kebatinan anda serta menjadi sebab kelancangan anda dalam tatanan
lahir, jika memang anda tidak mau berterus terang bahwa anda hanya
berhias-hias dengan iman dan seolah-olah memuliakan syara!”.
Orang pertama menjawab:
“Ini adalah persoalan yang jika diwajibkan menjaganya, maka kalangan
ulama lah yang paling pantas untuk menanganinya. Si Fulan yang kalangan
elit terkemuka tidak shalat. Si Fulan minum minuman keras. Si Fulan
makan harta wakaf dan harta anak-anak yatim. Si Fulan makan harta negara
dan tidak menjaga diri dari perkara yang haram. Si Fulan menyuap
pengadilan dan saksi. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya!”
Orang kedua menuduh disiplin tasawwuf sebagai penyebabnya.
Menurutnya, praktek sufisme telah mencapai batas yang tidak memerlukan
lagi praktek-praktek ibadah.
Orang ketiga beralasan dengan kerancuan lain. Mereka menuduh kalangan
yang memiliki kerancuan lain dari kaum serba membolehkan sebagai
orang-orang yang sesat dari jalan tasawwuf.
Orang keempat melemparkan kesalahan pada Ahl at-Ta‘lim (aliran syi‘ah Batiniyyah) sambil menyatakan:
“kebenaran adalah suatu yang rumit. Jalan ke sana sudah buntu. Di
dalamnya sudah banyak berbagai perselisihan. Tidak ada satu pun mazhab
yang lebih menonjol dari yang lainnya. Dalih-dalih yang diungkapkan
kalangan intelektual saling bertentangan. Akibatnya tidak ada lagi
kepercayaan pada pendapat kalangan rasionalis. Para penyeru pengajaran
hikmah sudah tak diperlukan lagi. Lalu bagaimana aku meninggalkan
sesuatu yang sudah yakin demi sesuatu yang masih ragu?”.
Orang kelima mengatakan:
“Masa bodoh dengan taklid ini. Saya sudah membaca ilmu filsafat. Saya
ketahui di sana makna hakikat kenabian. Bahwa inti kenabian kembali
kepada hikmah (kebijakan) dan maslahah (kebaikan). Misi kenabian adalah
mencegah dan mengekang kalangan awam untuk tidak saling berperang,
berselisih dan mengumbar syahwat. Sementara saya bukanlah orang awam dan
bukanlah orang bodoh yang mau terjebak dalam batu keterpaksaan. Saya
adalah kaum bijaksana yang lebih menuruti kata hikmah. Aku selalu
berpegangan pada hikmah dan tidak membutuhkan taklid( Ikut-ikutan)
lagi!”.
Inilah prestasi puncak keimanan orang yang membaca mazhab Ilahiyyin
(ketuhanan). Ia mempelajari hal-hal tersebut dari kitab Ibn Sina dan Abu
Nasr al-Farabi. Mereka inilah yang memakai Islam sebagai penghias diri
semata. Anda bisa melihat mereka membaca Alquran, aktif mengikuti jamaah
shalat, dan mengagung-agungkan syari‘at. Tapi mereka tetap tidak
meninggalkan meminum minuman keras dan segala bentuk kefasikan dan
prostitusi. Jika dikatakan pada mereka:
“jika memang kenabian tidak benar, lalu mengapa anda masih tetap shalat?”, mungkin mereka akan menjawab:
“untuk mengolah ragakan badan saja, atau karena sudah menjadi tradisi
masyarakat, serta untuk menjaga harta dan anak-anak!”. Mungkin juga
mereka terus mengatakan;
” bahwa syari‘ah sudah benar dan kenabian juga benar”. Lalu ketika ditanyakan kepada mereka:
“Terus, mengapa anda tetap meminum minuman keras?!” mereka akan berdalih:
“Minuman keras itu kan dilarang ketika memicu permusuhan dan
kebencian. Sementara saya, dengan daya hikmah yang saya miliki, jelas
terjaga dari hal itu. Toh saya meminumnya juga untuk lebih menajamkan
pikiran.”
Bahkan Ibn Sina menulis dalam sebuah wasiat bahwa dia telah bersumpah
pada Allah untuk melakukan ini dan itu, menjunjung tinggi syari‘at,
tidak membatasi diri pada ibadah keagamaan, tidak meminum sesuatu yang
tiada guna, melainkan yang memiliki fungsi kesehatan dan penyembuhan.
Itulah puncak prestasi keimanan Ibn Sina dalam kesucian iman dan
komitmen ibadah dengan pengecualian minuman keras untuk tujuan
pengobatan.
Maka ini adalah keimanan orang yang biasanya hanya sekedar
mengaku-ngaku. Banyak kalangan yang telah tertipu oleh mereka.
Ketertipuan ini semakin bertambah dengan lemahnya fungsi kritis untuk
membantah dan membendungnya. Mereka menolak mendebat ilmu teknik dan
logika, serta disiplin lain yang penting bagi mereka yang telah saya
paparkan alasanya sebelumnya.
Melihat kelemahan iman banyak kalangan hingga batas ini karena
sebab-sebab di atas, aku merasa berkewajban untuk menyingkap
kerancuan-kerancuan tersebut. Bagi saya yang sudah berkecimpung banyak
di dalam disiplin ilmu dan metode mereka, maksudnya disiplin tarekat
sufi, filsuf, Ahl at-Ta‘limiyyah dan ulama terkemuka, membuka kedok
mereka lebih mudah daripada minum air. Aku merasa bahwa sekaranglah
waktunya. Apa perlunya khalwah dan ‘uzlah bagimu sementara penyakit
sudah sedemikian mewabah, dan para dokter sendiri sakit dan kebanyakan
orang tengah menuju jurang kehancuran?. Saya bilang pada diri saya:
“Kapan kamu akan menyibukan diri untuk menyingkirkan awan dan menepis
kegelapan ini, sementara zamannya adalah zaman kemunduran dan fasenya
adalah putaran roda kebatilan? Jika kamu sibuk dengan mendakwahi
kebenaran pada mereka tentunya semua orang akan memusuhi kamu. Kalau
sudah begitu, bagaimana kamu bisa berkomunikasi dengan mereka. Hal itu
hanya bisa dilakukan secara sempurna pada zaman pembantu dan penguasa
agamis yang berwibawa”.
Saya lalu meminta keringanan pada Allah untuk meneruskan uzlah dengan
alas an kelemahan diri untuk menunjukan kebenaran dengan hujjah dan
dalil. Allah Swt. kemudian menggerakan jiwa dakwah penguasa dengan
sendirinya tanpa dorongan dari luar. Sultan mengeluarkan perintah
mendesak kepadaku untuk pergi ke Naysabur untuk mengecek dan mereportase
fitnah ini.
Dari sini aku tersadar bahwa alasan dispensasi ketidakberdayaan,
tidak seharusnya diajukan jika pendorong untuk tetap uzlah hanyalah
karena kemalasan dan untuk beristirahat saja, mencari prestise diri dan
menjaga diri dari pesakitan manusia. “Jangan kamu meminta keringanan
lagi atas dirimu hanya karena brutalnya manusia sementara Allah sudah
berfirman menjanjikan:
“Alif Laam Miim, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan
(saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah Swt. mengetahui orang-orang yang benar dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S. al-‘Ankabut
[29]: 1-3).
Dia juga telah berfirman pada Rasul-Nya yang merupakan makhluk-Nya yang paling terkemuka,
“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu,
akan tetapi mereka sabar atas pendustaan dan penganiyaan (yang
dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami pada mereka.”
(Q.S. al-An‘am [6]: 34).
Bahkan Allah berfirman panjang, “yaa Siin. Demi Alquran yang penuh
hikmah. Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul. (yang berada)
di jalan yang lurus. (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha
Perkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringatan kepada kaum
yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan., karena itu
mereka lalai. Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan
Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.
Sesungguhnya kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan
mereka diangkat ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan kami
adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula),
dan kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama
saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka, mereka
tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada
orang-orang yang mau mengikuti peringatan, dan yag takut pada Tuhan Yang
Maha Pemurah walau pun dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar
gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (Q.S. Yasiin [36]:1-11].
Lebih lanjut, saya kemudian meminta pendapat kalangan Sufi (Arbab
al-Qulub wa al-Musyahadah). Mereka semua menyetujui keinginan saya untuk
menanggalkan uzlah dan keluar dari zawiyyah (tempat peribadatan para
sufi-penj.). keputusan ini juga lebih dikuatkan lagi dengan mimpi-mimpi
dari para kaum saleh yang cukup banyak dan mutawattir. Aktifitas ini
merupakan awal kebaikan dan kelurusan yang telah ditakdirkan Allah Swt.
dalam penghujung abad ini. Allah Swt. telah berjanji untuk menyegarkan
agama-Nya di setiap penghujung abad. Maka harapan dan prasangka baik pun
semakin kokoh dengan kesaksian-kesaksian di atas. Dan Allah memudahkan
gerak saya ke Naysabur untuk melaksanakan tugas-tugas ini pda bulan Zul
Qa‘dah tahun 499 H. dulu aku meninggalkan Baghdad pada bulan Zu
al-Qa‘dah tahun 488 H, kemudian melakukan uzlah selama 11 tahun. Mungkin
prilaku ini sudah ditakdirkan oleh Allah Swt. bagi saya. Ini adalah
keajaiban takdir-Nya yang belum pernah terlintas dalam hati saya selama
laku uzlah. Begitu pula kepergian saya dari Baghdad dan pilihan saya
untuk menempuh laku-laku sufisme tersebut juga tidak pernah saya
perkirakan kemungkinannya sebeumnya. Alah Swt. memang Maha
Pembolak-Balik hati dan kondisi. ‘Dan hati orang mukmin memang berada
dalam kedua jari jemari Sang Maha Pengasih.’
Saya bertekad kembali menyebarkan ilmu. Namun aku sadar sepenuhnya,
saya tidak boleh kembali terjebak dalam keterpeosokan masa lalu. Dulu
saya menyebarkan ilmu demi memperoleh kehormatan. Sekarang saya
menyebarkan ilmu yang bisa menjauhkan diri dari ambisi kehormatan dan
membuka kedok kehinaan derajat kehormatan dan jabatan. Inilah niat, misi
dan harapan saya sekarang. Allah Maha Tahu akan harapan tersebut, bahwa
saya terus mencari kebaikan diri dan orang lain selain saya. Saya tidak
tahu apakah saya akan mampu mencapai tujuan saya atau malah terperosok
lagi melenceng dari misi saya? Tapi saya percaya dengan segala keyakinan
dan musyahadah bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali atas restu dan
pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Agung. Saya tidaklah bergerak
sendiri, akan tetapi Allah-lah yang menuntunku untuk bertindak. Saya
terus memohon pada Allah untuk memperbaiki diri saya terlebih dahulu.
Dan Allah benar-benar telah memperbaiki dan menunjukan saya. Saya juga
berdo‘a agar Allah memperlihatkan laku kebajikan sebagai kebajikan ,
untuk kemudian Dia memberi saya kekuatan untuk mengikutinya, dan
menunjukan kebatilan sebagai kebatilan untuk kemudian Dia mengkaruniai
saya kemampuan untuk menjauhinya.
Sekarang marilah kita kembali kepada masalah yang kami sebutkan di
muka tentang sebab-sebab kelemahan iman demi menunjukan pada mereka akan
jalan kelurusan dan menyelamatkan mereka dari jurang kehancuran.
Untuk kalangan yang mengaku bingung akan hal-hal yang mereka dengar
dari kaum aliran at-ta‘lim, terapi pengobatannya telah kami sebutkan
dalam kitab ‘al-Qistas al-Mustaqim’. Makanya, kami tidak memperpanjang
keterangan tersebut dalam risalah ini.
Mengenai hal yang dituduhkan oleh kalangan kaum yang serba
membolehkan (kaum ibahah), kami memetakan kerancuan-kerancuan mereka
dalam 7 macam. Kami membeberkannya dalam kitab ‘kimiya as-Sa‘adah’.
Menjawab kalangan yang telah rusak imannya akibat jalan filsafat yang
mereka tempuh hingga sampai mengingkari kebenaran kenabian, kami telah
memaparkan hakikat kenabian dan keberadaan wujudnya sebagai sebab
keharusan, dengan analogi adanya ilmu khasiat-khasiat medis dan
astronomi, serta selain keduanya. Bahkan kami sengaja mendahulukan
pembahasan tentang masalah ini sebagai pengantar sengaja untuk keperluan
demikian. Kami memakai dalil dari khasiat-khasiat medis dan kedokteran
karena memang pengetahuan-pengetahuan tersebut sama dengan disiplin ilmu
mereka. Karena kita harus menjelaskan pada setiap orang terpelajar
dengan keterampilan ilmu yang sama dengan mereka seperti astronomi,
kedokteran, matematika, sihir, dan sulap dengan melalui penjelasan
bukti-bukti kenabian.
Ada pun orang yang mengakui kenabian dengan lisannya, namun
menyamakan syariat dengan hikmah, maka mereka sebenarnya telah kafir
karena mengingkari kenabian dan beriman kepada hukum yang mempunyai
karakter khusus yang harus diikutinya. Ini jelas bukan termasuk kenabian
sama sekali. Akan tetapi, keimanan pada kenabian adalah kesediaan
mengakui adanya fase lanjutan di belakang akal, di mana terbuka dalam
fase tersebut mata yang mampu melihat pengetahuan tertentu yang tidak
bisa dijangkau oleh akal sebagai mana ketidakmampuan suara untuk
mengetahui warna, indera penglihatan untuk mengetahui suara, dan
ketidak-mampuan panca indera untuk mengetahui hal-hal rasional. Jika
memang hal ini tidak boleh, maka kami telah mempunyai bukti
demonstratif, akan potensi kemungkinan, bahkan realitas itu sendiri. Dan
jika mereka membolehkan penjelasan demikian, maka telah terbukti juga
di sini bahwa terdapat hal-hal yang disebut dengan khasiat yang tidak
dilewati lintasan akal, bahkan akal malah cenderung mendustakannya dan
menetapkan kemustahilannya. Juga bahwa ganja seberat 1/6 dirham adalah
racun yang mematikan, sebab ia membekukan darah di dalam nadi karena
saking dinginnya.
Sementara kalangan yang menganggap diri sebagai pakar ilmu alam
menyatakan bahwa di antara komposisi alam ada unsur yang mendinginkan
dengan campuran senyawa air dan debu. Keduanya adalah unsur dingin .
padahal sudah maklum adanya bahwa berliter-liter air dan tanah
pendinginannya di dalam tidak sampai batasan ini. Jika seorang naturalis
diberitahukan akan kenyataan ini dan ia belum pernah melakukan
eksperimen atasnya pasti ia akan bilang:
“ini jelas mustahil. Bukti kemustahilannya bahwa di dalamnya
mengandung komposisi air dan udara. Air dan udara tidak akan menambah
kedinginannya. Lalu jika kita mengukur masing-masing dengan air dan
debu, maka takaran tinggi pun suhu ini jelas tidak menimbulkan dingin,
apalagi jika dimasuki kedua unsur panas. Pastilah lebih tidak
berdampak”.
Ia begitu mengunggulkan hal ini sebagai bukti penyelidikan (burhan),
dan memang kebanyakan argumen kaum filsuf dalam disiplin naturalisme dan
ketuhanan didasarkan pada jenis ini. Mereka hanya melihat permasalahan
sebatas yang mereka temukan dan logika-kan dengan akal, sehingga
terhadap hal-hal yang asing. Mereka menduga-duga sebagai sesuatu yang
mustahil adanya. Padahal mimpi yang benar-benar (ar-ra‘yu as-sadiqah)
biasanya tidak lumrah. Maka jika ada orang yang mengaku bahwa dalam
ketidak berfungsian inderanya ia melihat dan mengetahui barang gaib,
pastilah akan ditolak oleh kalangan oleh kalangan ini. Apa lagi jika
dikatakan pada mereka:
“Bolehkah (terjadi) di dunia ini sesuatu sebesar biji diletakan di
sebuah negeri untuk memakan negeri tersebut, dan kemudian memakan
dirinya sendiri, sehingga tidak tersisa apa-apa lagi di dalam negeri
tersebut beserta seluruh isinya, dan sesuatu itu pun juga tidak
tersisa?” mereka akan langsung menyatakan:
”ini tidak mungkin. Ini hanya khurafat yang mengada-ada”.
Padahal ini adalah soal api yang dapat membumi-hanguskan seluruh
negeri. Namun mereka yang belum pernah menyaksikan hal tersebut akan
langsung mengingkari jika mendengarnya. Dan kebanyakan pengingkaran akan
keajaiban akhirat juga berlangsung demikian. Maka kami katakan pada
kaum naturalis:
“Anda menyatakan sendiri bahwa di dalam ganja terdapat khasiat
pendingin yang tidak bisa dianalogikan secara akal dengan tabiat alam.
Lalu mengapa tidak boleh terjadi di dalam masalah-masalah syar‘iat agama
yang punya khasiat-khasiat untuk menyembuhkan hati dan membersihkannya
yang memang tidak bisa terjangkau oleh kemampuan akal, melainkan harus
dengan mata batin kenabian?”.
Mereka sendiri telah banyak mengakui khasiat-khasiat yang lebih aneh
lagi dari hal ini di buku-buku mereka, misalnya khasiat aneh didalam
mengobati orang hamil yang kesulitan mengeluarkan janin dengan bentuk
rajah seperti ini:
Tulis rajah di atas dua sobekan baju yang belum terkena air. Lalu si
perempuan yang hamil (suruh) melihat pada keduanya dengan kedua matanya.
Kemudian (suruh) ia meletakan keduanya di bawah kedua kakinya, maka
pastilah si jabang bayi akan langsung keluar seketika dengan sangat
mudah”.
Mereka mengakui kemungkinan hal ini dan memaparkannya panjang lebar
dalam kitab ‘Ajaib al-Khawwas’. Kitab ini berbentuk tujuh bait yang
dinomori dengan angka-angka khusus, dan jumlah total di dalam satu tabel
adalah 15. aku telah membacanya, dalam bentuk yang panjang, lebar dan
atas kedua sisinya.
Sungguh aneh bin ajaib! Bagaimana bisa orang yang membenarkan hal
tersebut, tapi akalnya tidak terbuka untuk mempercayai dan membenarkan
bahwa ketentuan salat subuh 2 rakaat, zuhur 4 rakaat, dan maghrib 3
rakaat juga mempunyai khasiat-khasiat yang tidak bisa diketahui dengan
kemampuan nalar yang menunjukkan alasan perbedaan waktu, melainkan hanya
bisa dijangkau dengan cahaya kenabian. Anehnya lagi, jika kita mengubah
bahasa ungkapannya dengan bahasa kaum astronomi, pastilah mereka akan
mempermasalahkan perbedaan rakaat karena perbedaan waktu tersebut. Maka
akan kami katakan pada mereka:
“Bukankah berbeda-beda pula penilaian orang yang melihat matahari di
tengah-tengah langit, dengan yang melihatnya di ufuk timur dan saat
tenggelam. Toh banyak orang menjadikannya sebgai patokan dalam terapi
penyembuhan bagi bermacam penyembuhan, dan untuk umur dan waktu yang
berbeda-beda. Padahal tidak ada beda antara matahari lengser dan ketika
ia di tengah-tengah langit, dengan saat ia tenggelam dan berada di
barat. Apakah ada jalan lain untuk membenarkannya?”.
Ketika ia mendengar hal ini dengan bahasa ahli astronomi, mungkin ia
akan mencoba mendustakannya 100 kali, sampai si ahli bilang kepadanya:
“Jika matahari berada di tengah-tengah langit, planet Fulan terlihat,
dan bintang Fulan juga muncul, maka jika aku memakai baju baru di saat
demikian, niscaya aku akan mati karena sebab baju tersebut! Karena
tidak boleh memakai baju tersebut pada saat demikian, karena mungkin
kedinginan yang luar biasa akan menderanya”. Ia akan membenarkannya,
meski mungkin ia telah mendengar dan mengetahui kebohongan ucapan si
ahli astronomi ini berkali-kali.
Aneh sekali orang yang mau saja akalnya memerima hal rancu ini,
bahkan terpaksa membenarkannya sebagai khasiat, dimana mengetahuinya
sendiri merupakan mukjizat sebagian para Nabi, bagaimana bisa ia malah
mengingkari hal yang sama ketika ia mendengarnya dari pernyataan yang
benar dari Nabi dan dikuatkan dengan mukjizat-mukjizat yang tidak
mengenal sedikitpun kata dusta.
Jika seorang filsuf mengingkari daya khasiat-khasiat ini dalam
bilangan rakaat, ritual melempar jumrah, jumlah rukun haji, dan
ritual-ritual ibadah syara lainnya, ia sebenarnya tidak akan menemukan
perbedaan yang mendasar antara hal-hal tersebut dengan khasiat-khasiat
obat-obatan dan bintang. Jika ia berdalih:
“Aku telah melakukan satu uji dari disiplin astronomi dan uji coba
lain dari disiplin medis. Aku melihat sebagian memang benar adanya dan
diriku pun tergerak membenarkannya. Dan gugur dalam hatiku untuk menepis
dan mengingkarinya. Namun akan halnya ini, aku belum pernah mencobanya.
Dengan apa aku bisa mengetahui keberadaanya dan pembuktian kebenarannya
jika aku mengakui kemungkinannya?”.
Akan saya katakan padanya:
“Anda jangan mendustakan apa yang anda coba, bahkan ketika anda
mendengar informasi dari para pencoba lain anda pun begitu saja
mengikutinya. Maka dengarkan kata-kata para Nabi. Mereka telah mencoba
hingga menyaksikan kebenaran semua yang di datangkan oleh syari‘at.
Titilah jalan mereka, maka akan anda temukan dengan penyaksian sebagian
yang anda cari !”.
Lebih lanjut saya katakan bahwa jika memang anda belum mencobanya,
namun akal anda memutuskan keharusan membenarkan dan mengikutinya secara
pasti. Maka lihat misalnya jika kita mengambil hipotesa seorang anak
yang telah menginjak akil baligh. Ia belum pernah mengalami sakit
kemudian sakit. Di sini ia memiliki seorang bapak yang begitu penyayang
dan cakap dalam masalah kedokteran yang telah mendengar rumusan-rumusan
pengetahuan kedokteran sejak akil balighnya. Kemudian si bapak meracik
obat untuk si remaja yang sakit dan berkata:
“Obat ini cocok untuk sakitmu. Ia akan menyembuhkanmu dari kesakitanmu”.
Coba, apa yang akan diputuskan oleh akal si anak?. Jika memang obat
itu pahit dan berasa kurang enak, apakah si anak akan menelannya demi
kesembuhannya, ataukah malah menolak dan memutuskannya sambil berkata:
“Akalku belum mengerti kaitan obat ini dengan kesembuhanku, karena aku belum pernah mencobanya!”.
Di sini, anda pasti akan membodoh-bodohkan anak itu jika ia melakukan
hal tersebut. Maka, begitu pula orang-orang kaum pemilik mata batin
akan membodoh-bodohkan anda dalam kekukuhan anda menolak petuah para
Nabi! Jika anda mau mengatakan:
“lalu bagaimana aku bisa mengetahui kasih sayang Nabi Saw. dan pengetahuannya dalam masalah medis?”, Maka akan saya bilang:
“Bagaimana anda bisa mengetahui kasih sayang ayahmu? padahal itu
bukan sesuatu yang bisa diraba dengan indera. Anda kan mengetahuinya
lantaran tanda-tanda prilakunya serta bukti-bukti perbuatanya dalam
sumber-sumbernya dengan pengetahuan mendesak yang tidak diragukan lagi.”
Barang siapa yang memperhatikan sabda-sabda Rasulullah Saw. dan kabar
tentang beliau dalam usaha membimbing manusia, kasih sayangnya mengenai
keberutalan manusia dengan segala kelembutan dan kasih sayangnya demi
membaguskan akhlak mereka dan memperbaiki yang jelek, dan secara umum
pada hal-hal yang menjadi titik tolak kebaikan agama dan keduniaan
manusia. Maka ia akan memperoleh kepastian pengetahuan bahwa kasih
sayang Nabi pada umatnya lebih besar daripada kasih sayang orang tua
kepada anaknya. Lebih lanjut, jika anda melihat keajaiban-keajaiban laku
beliau yang tampak nyata dan yang gaib sebagaimana yang disampaikan
dalam Alquran melalui lisan beliau serta yang diberitakan juga dalam
khabar-khabar (hadis), hingga prihal yang beliau sebutkan di akhir zaman
yang kemudian muncul menjadi kenyataan sebagaimana yang beliau
isaratkan. Maka ia akan tahu dengan sendirinya bahwa beliau telah
mencapai fase lanjutan melebihi akal. Telah terbuka baginya, mata yang
menyingkap segala kegaiban yang hanya bisa dijangkau oleh orang-orang
khusus (khawwas), serta hal-hal lain yang tidak terjangkau akal. Inilah
metodelogi ilmiah yang akan mendesak dan mengharuskan pembenaran akan
Nabi Saw.. Cobalah dan renungkanlah Alquran, lalu telaah juga
khabar-khabar (hadits), niscaya anda akan mengetahui hal tersebut dengan
mata kepala sendiri.
Penjelasan sekedarnya ini cukup untuk memperingati orang yang sedang
meniti jalan filsafat. Kami menguraikan karena kebutuhan yang sangat
mendesak pada zaman ini.
Adapun factor penyebab keempat adalah kelemahan iman karena keburukan
laku para ulama. Penyakit ini bisa disembuhkan dengan tiga hal:
Pertama:
Apa yang anda katakan bahwa orang alim yang menurut anda telah
memakan barang haram itu, maka pengetahuannya tentang hal tersebut sama
seperti pengetahuan anda mengenai keharaman khamr. Memakan daging babi
dan makan riba, hingga keharaman menggunjing orang, berbohong dan
propokasi(namimah). Anda juga tahu persis keharaman hal tersebut, tapi
anda tetap pula melakukannya. Hal ini bukan karena ketidak imanan anda
akan kemaksiatan hal tersebut, melainkan karena syahwat telah menguasai
anda. Maka nafsu syahwat seorang alim ulama juga sama seperti syahwat
anda. Ia telah terkalahkan oleh syahwatya sebagaimana anda. Hanya
pengetahuannya akan masalah-masalah di belakang inilah yang membedakan
dia dengan anda. Bertambahnya larangan dari hal-hal terlarang ini tidak
sesuai dengan kapasitasnya. Betapa banyak orang yang percaya akan medis,
namun mereka tidak sabar dengan buah-buahan tertentu dan air dingin,
meski dokter telah menjauhkan dan melarangnya untuk mengkonsumsinya. Hal
ini tidak boleh diartikan bahwa hal itu tidak berbahaya, atau bahwa
kepercayaan kepada medis tidak benar. Inilah letak kesalahan para ulama.
Kedua:
Dikatakan pada orang awam bahwa sebaiknya kamu percaya bahwa seorang
ulama menjadikan ilmu sebagai bekal untuk dirinya kelak di akhirat. Si
ulama menyangka bahwa ilmu akan menyelamatkannya serta menjadi
penolongnya sampai-sampai ia meremehkan amalan-amalannya karena
keutamaan ilmunya. Padahal jika memang ilmu boleh dijadikan sebagai
tambahan argumentasi olehnya, maka ia boleh juga menjadi tambahan
derajatnya. Hal ini mungkin-mungkin saja. Kalau pun ia meninggalkan
amal, ia masih bisa menunjukan ilmu. Sedangkan kamu!, wahai orang awam,
jika kamu hanya melihatnya, kemudian kamu meninggalkan amal, sementara
kamu juga melalaikan ilmu, maka kamu akan binasa karena kejelekan amalmu
tanpa ada penolong.
Ketiga:
Inilah yang benar. Bahwa seorang alim ulama sejati tidak melakukan
tindak maksiat kecuali karena factor kelalaian. Dan ia juga tidak akan
bersikeras berbuat maksiat. Sebab ilmu sejati telah mengajarkan bahwa
maksiat merupakan racun yang merusak, dan akhirat lebih utama dari pada
dunia. Orang yang sudah tahu hal ini tidak akan mempertaruhkan kebaikan
dengan sesuatu yang lebih rendah. Ilmu ini juga tidak diperoleh
sebagaimana jenis disiplin-disiplin lain yang banyak digeluti oleh orang
yang malah semakin menambah keberanian mereka untuk berbuat maksiat
pada Allah. Beda dengan ilmu sejati, maka ia menambahkan bagi pemiliknya
rasa takut dan harap cemas. Perasaan inilah yang akan menghalangi
dirinya untuk tidak berbuat maksiat, kecuali ada godaan kesalahan yang
memang tidak akan mampu ditahan oleh semua orang dalam beberapa fase.
Hal ini tidak lalu menunjukan kelemahan iman mereka. Karena orang mukmin
adalah orang yang suka bertaubat. Mereka jauh dari kekukuhan dan
kesetiaan pada kesalahan.
Demikianlah yang ingin aku uraikan dalam rangka mendudukan noda dan
bahaya disiplin filsafat dan faham ta‘lim aliran syi‘ah Batiniyyah,
serta bahaya orang yang mengingkari keduanya tanpa menggunakan metode.
Kami memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar berkenan menjadikan
kita sebagai orang-orang yang Dia lindungi dan Dia tunjukan pada
kebenaran jalan-Nya, juga yang Dia ilhami untuk terus berzikir
mengingat-Nya tanpa pernah melupakan-Nya, serta yang Dia jaga dari
kejelekan diri sehingga tidak terpengaruh oleh kejelekan orang lain, dan
terakhir, semoga Dia berkenan menjadikan kita semua sebagai orang-orang
dibersihkan dirinya sehingga hanya menyembah kepada-Nya.
Shalawat dan salam bagi penghulu kita, Muhammad Saw., beserta seluruh keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Bab ii
Meraih kebahagiaan sejati
[kimiya as-sa‘adah]
Bismillahirrahmanirrahim
Kata pengantar pengarang
Puji syukur kepada Allah Swt. yang telah menaikan derajat jiwa orang-orang yang suci dengan perjuangan batin
,
yang telah membahagiakan hati para wali dengan penyaksian haq, yang
telah menghiasi ucapan orang-orang mukmin dengan zikir, yang telah
memuliakan hati orang-orang yang banyak mengetahui serta bijak dengan
berfikir, yang telah menjaga para hamba dari kerusakan, yang telah
menahan segala halangan dari para ahli zuhud, yang telah menghindarkan
orang-orang taqwa dari godaan nafsu, yang telah mensucikan ruh
orang-orang yakin dari segala keraguan, yang telah menerima semua amal
perbuatan para pencinta kebaikan melalui do‘a-do‘a dan telah menguatkan
tali persatuan penyanjung kemerdekaan dengan ikatan yang kuat.
Aku memuji-Nya dengan pujian mereka yang telah menyaksikan
tanda-tanda kekuasaan dan kekuatan-Nya, yang telah menyaksikan
ke-Mahatunggalan-Nya dan
wahdaniyah-Nya, yang telah mengetuk
pintu-pintu rahasiah-Nya dan kemuliaan-Nya, yang telah memetik buah dari
sujud dan kataatan kepada-Nya. Aku mensyukuri-Nya dengan syukur mereka
yang telah terbakar dan hanyut dalam arus sungai kemuliaan dan
pemuliaan-Nya.
Aku beriman pada-Nya dengan iman mereka yang telah mengakui
kitab-kitab-Nya, perintah-Nya, para Nabi-Nya, para Wali-Nya,
janji-janji-Nya, ancaman-Nya, pahala dan azab-Nya. Aku bersaksi tiada
Tuhan selain Allah yang Maha Tunggal dan yang tidak memiliki sekutu. Aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diutus untuk
menghancurkan kefasikan dan kemerosotan moral, diutus untuk
mencerai-beraikan para pembangkang, diutus untuk memaksa orang-orang
musyrik mengakui kebenaran-Nya, diutus untuk menolong para pengikut
kebenaran dan kebaikan. Maka semoga keselamatan senantiasa Allah
menganugerahkan kepadan Rosul SAW dan kepada para sahabatnya.
OBYEK PENGETAHUAN ADALAH DIRI
Ketahuilah bahwa pengetahuan tentang seluk beluk tubuh tidak ada
dalam katalog ilmunya kaum awam. Akan tetapi tersimpan dalam gudang
ilmu para raja, demikian juga dengan kimia kebahagiaan. Ia hanya ada
dalam gudang rahmat Allah Swt. Di langit atas tersimpan inti para
malaikat, dan di bumi tersimpan hati para wali yang bijak. Dan setiap
orang yang mencari kimia ini tanpa berdasar kehadiran konsep kenabian,
maka ia telah salah jalan dan semua daya upayanya tak lebih seperti uang
dinar palsu. Ia kira dirinya kaya, tapi sebenarnya miskin di hari
kiamat, sebagaimana ditegaskan allah Swt.:
“Maka kami singkapkan dari padamu tutup yang menutupi matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Q.S. Qaf [50]: 22).
Dari sejumlah rahmat Allah pada hamba-Nya, Dia telah mengutus seratus
dua puluh empat ribu Nabi untuk mengajarkan seluruh manusia tentang
kimia ini, mengajarkan mereka bagaimana menjadikan hati sebagai alat
mujahadah perjuangan diri.
Mengajarkan bagaimana mensucikan hati dari budi pekerti tak terpuji dan
mengajarkan bagaimana mengggunakannya untuk menapaki tangga-tangga
kesucian, seperti dijelaskan Allah Swt.:
“Dia-lah yang mengutus pada kaum yang buta huruf seorang rasul
diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan
mereka dan mengajarkan kitab dan hikmah.” (Q.S. al-Jum‘ah [62]: 2).
Atau mensucikan mereka dari akhlak tidak terpuji dan sifat-sifat
kebinatangan, serta menjadikan sifat-sifat malaikat sebagai baju dan
hiasan mereka.
Ada pun maksud dari kimia ini adalah, bahwa semua yang berhubungan
dengan sifat-sifat negatif dan buruk maka wajib meninggalkanya, dan
semua yang berhubungan dengan sifat-sifat positif dan kebaikan maka
wajib mengenakannya. Satu-satunya rahasia keberhasilan kimia ini adalah
melangkah mundur dari keduniawian seperti ditegaskan oleh Allah Swt.,:
“Dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (Q.S. al- Muzammil [73]: 8) Dan kimia ini sangat banyak.
PENGETAHUAN TENTANG DIRI PRIBADI
Ketahuilah bahwa kunci mengetahui Allah
(ma‘rifat Allah) adalah mengetahui diri pribadi. Sepeti firman-Nya :
“Kami akan memperlihatkan pada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami
atas segenap galaksi dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah
bagi mereka bahwa Alquran adalah benar.” (Q.S. Fussilat [41]: 52).
Demikian pula sabda Nabi Saw.
“Siapa saja yang tahu akan dirinya, maka ia telah mengetahui Tuhannya.”
Tak sesuatu yang lebih dekat denganmu kecuali dirimu sendiri. Maka jika
kamu tidak mengetahui dirimu, bagaimana mungkin bisa mengetahui
Tuhanmu?.
Jika kamu katakan bahwa :aku telah mengetahui diriku, yang kamu tahu
sebenarnya adalah diri bagian yang tampak (anggota badan) yang terdiri
dari tangan, kaki, kepala dan yang lainnya. Kamu tak mengetahui apa yang
tersimpan dalam jiwamu. Yang bila sedang marah, ia menueretmu kepada
untuk bertengkar. Jika sedang bernafsu ia mengajakmu kawin. Jika sedang
lapar, ia memintamu makan. Jika sedang haus, ia memintamu minum, dan
hewan sangat mirip denganmu dalam hal ini. Maka dari itu, yang wajib
engkau lakukan adalah mengenalkan hakikat pada dirimu hingga engkau tahu
apa sebenarnya dirimu, dari mana kamu datang hingga sampai di tempat
ini (Dunia), untuk tujuan apa kamu diciptakan, dengan apa kamu bisa
meraih kebahagiaan dan dengan apa kamu mendapatkan kepuasan.
Dalam jiwamu terhimpun berbagai macam sifat. Di antaranya sifat-sifat
binatang jinak, binatang buas, demikian juga sifat-sifat malaikat. Maka
ruh adalah hakikatmu yang paling mendasar, lainnya adalah unsur asing
dan kosong. Maka yang wajib kamu lakukan adalah mengetahui hal ini,
demikian juga bahwa sifat-sifat itu harus dipupuk dan dibahagiakan.
Kebahagiaan binatang jinak terletak pada makan, minum, tidur dan kawin,
maka jika kamu merasa bagian dari mereka, kenyangkan perutmu! dan
puaskan kelaminmu!. Kebahagiaan akan dirasakan binatang buas ketika ia
mampu menyerang dan melumpuhkan mangsa, kebahagiaan syetan terletak pada
makar, kejahatan dan tipuan. Maka jika kalian merasa bagian dari
mereka, berbuatlah seperti yang mereka lakukan!.
Kebahagiaan dirasakan para malaikat, ketika mereka mengalami
keindahan hadir di tengah haribaan Tuhan. Bagi mereka tak ada jalan
sedikit pun untuk amarah dan syahwat. Jika engkau merasa sehakikat
dengan mereka, berusahalah mengenal asalmu sampai engkau tahu jalan
menuju hadirnya kehambaan Tuhan. Sampai engkau bisa menyaksikan
kebesaran dan keindahan-Nya. Sampai engkau mampu menyelamatkan dirimu
dari belenggu amarah dan nafsu. Sampai engkau tahu untuk apa sifat-sifat
ini menjadi bagian dari dirimu.
Allah Swt. tidak menciptakan semua sifat itu agar mereka mengekangmu
dan menawanmu, tapi Ia menciptakannya agar mereka menjadi dibawah
kendalimu dan tawananmu. Agar bisa mendorong berjalan, yaitu kedua
kakimu dan agar salah satunya bisa engkau jadikan kendaraan berjalan
sedangkan lainnya sebagai senjata hingga engkau mencapai kebahagiaan.
Jika engkau telah sampai, maka kendalikanlah ia di bawah kedua kakimu
dan kembalilah ke tempat kebahagiaanmu. Tempat itu adalah rumah bagi
para orang-orang khusus yang menyaksikan Hadirat Illahi
(al-Hadrah al-Illahiyyah), sedang rumah-rumah para awam adalah tingkatan-tingkatan surga.
Engkau harus mengerti makna-makna istilah ini untuk bisa mengetahui
sepenggal saja tentang dirimu. Dan barang siapa yang tidak mengetahui
pada makna-makna ini, maka ia hanya mendapatkan serpihan-serpihannya
saja, karena hakikat sebenarnya tertutup rapat .
PASAL DUA
HATI , JIWA DAN RUH
Jika kamu berkeinginan untuk mengerti prihal dirimu, maka ketahuilah bahwa engkau sebenarnya terdiri dari dua hal:
Pertama, hati, dan
kedua
yang disebut jiwa atau ruh. Jiwa atau ruh adalah hati yang biasa engkau
sebut sebagai mata hati. Hakikatmu adalah jiwamu, karena jasad yang
tampak pertama sebenarnya adalah terakhir. Dan jiwa yang engkau anggap
sebagai terakhir sebenarnya yang pertama, atau disebut hati. Hati disini
bukanlah sepotong daging yang terletak di dada sebelah kiri, karena itu
hanya berlaku bagi binatang dan jasad mati.
Segala sesuatu yang kamu lihat dengan mata telanjang adalah alam ini
atau yang disebut alam realita. Sedang hakikat hati bukanlah bagian alam
ini, tapi alam gaib, dan hakikat itu tersimpan di balik alam ini.
Segumpal daging itu hanyalah wadahnya, semua anggota tubuh adalah bala
tentaranya, sedang ia adalah rajanya.
Ma‘rifah Allah (mengtahui Allah) dan
musyahadah
(menyaksikan) keindahan hadir-Nya adalah sifat-sifat mata hati. Beban
baginya dan perintah untuknya. Dari situ ia mendapatkan pahala dan
siksa. Kebahagiaan dan kepuasan mengikutinya, demikian ruh hewani pun
mengintainya. Mengetahui sifat-sifat hati adalah kunci mengetahui Allah
Swt.. Maka kamu harus bekerja keras untuk mengetahuinya, karena ia
adalah inti mulia yang berakar pada inti para malaikat dan berasal dari
Hadirat Illahi, dari tempat itu ia datang dan ke tempat itu ia kembali.
PASAL TIGA
RUH BAGIAN DARI ALAM KEKUASAAN
Sedang pertanyaanmu apa hakikat hati,
syari‘at tidak menjelaskannya secara panjang lebar kecuali dalam satu ayat.
“dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: “ruh itu termasuk urusan Tuhanmu,” (Q.S. al-Isra’ [17]: 85)
Karena ruh merupakan bagian dari kekuasaan Ilahiyyah, yaitu dari
alam al-amr ( kekuasaan Tuhan). Allah Swt. berfirman:
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah haqq Allah.” (Q.S. al-‘Araf [7]: 54)
Dengan demikian, pada satu sisi manusia merupakan bagian dari
alam ciptaan dan pada sisi lain bagian dari
alam kekuasaan. Segala sesuatu yang bisa dikenai ukuran panjang-lebar, takaran, dan cara kerja, adalah termsuk alam ciptaan
, namun
hati tidak memiliki ukuran panjang lebar dan kadar tertentu. Oleh
karena itu, ia tak menerima pembagian. Jika bisa dibagi, maka ia bisa
termasuk alam ciptaan. Misalnya sisi sifat bodoh, maka ia pun menjadi
bodoh, dari sisi sifat pintar, ia pun menjadi pintar. Namun segala
sesuatu yang memiliki sifat bodoh dan pintar pada saat yang sama adalah
mustahil. Jadi jelas hati bagian dari alam kekuasaan
, karena dalam alam kekuasaan(
alam al-amr) tidak berlaku ukuran panjang,lebar dan kadar tertentu. Sebagian dari mereka mengira bahwa ruh bersifat
qadim (permulaan), maka mereka telah salah. Sebagian lain berpendapat ruh adalah
‘ard
(aksiden), maka mereka pun salah. Karena sifat tak pernah berdiri
sendiri, tapi mengikuti yang lain. Maka, ruh adalah asal anak Adam, dan
jiwa adalah wadah mereka. Jadi bagaimana mungkin dia adalah sifat. Suatu
kaum mengatakan ruh adalah badan, mereka juga salah, karena badan
menerima pembagian. Dan ruh yang sejak tadi kita sebut adalah sarana
untuk mengetahui Allah. Oleh karena itu, ia bukan merupakan badan, juga
bukan sifat, melainkan unsur inti malaikat.
Mengetahui tentang ruh teramat sangat sulit, karena agama tak memberi
jalan sedikit pun. Dan agama tidak memerlukan untuk mengetahuinya,
sebab agama intinya adalah kesungguhan beribadat, sedang
ma‘rifah adalah tanda hidayah, sebagaimana firman-Nya:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami,
benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Q.S.
al-Ankabut [29]: 69)
Dan barang siapa yang tidak bersungguh-sungguh beribadah(
Mujahadah), ia tidak boleh membahasnya atau mencari hakikatnya. Dasar pertama dari
mujahadah adalah mengetahui bala tentara hati. Karena manusia jika tidak mengetahui hal ihwal kemiliteran, ia tak dibenarkan berperang.
PASAL EMPAT
JIWA ADALAH SARANA HATI
Ketahuilah bahwa jiwa adalah sarana hati, hati memiliki bala tentara, seperti dijelaskan Allah Swt.:
“dan tak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri.” (Q.S. al-Mudatsir[74]: 31)
Hati diciptakan untuk tugas-tugas akhirat, untuk mendapatkan
kebahagiaannya. Adapaun kebahagiaan hati adalah dengan mengetahui
Tuhannya. Mengetahui Tuhannya bisa didapatkan melalui ciptaan Allah Swt.
dari berbagai
‘alam-Nya. Keajaiban alam tidak mungkin
terlihat kecuali melalui panca indera, dan panca indera berasal dari
hati yang mengambil jiwa sebagai sarananya. Kemudian dilanjutkan dengan
mengetahui cara kerjanya dan komponen. Jiwa tidak akan berfungsi aktif
kecuali dengan makan, minum, suhu panas dan kelembaban tertentu. Ia akan
lemah saat dibebani bahaya dari dalam, yaitu lapar dan haus. Demikian
saat melawan bahaya luar, seperti air dan api. Ia menghadapi banyak
musuh.
PASAL LIMA
BALA TENTARA HATI
Ketahuilah engkau juga harus mengetahui adanya dua macam pasukan tentara, yaitu pasukan tentara bagian luar yang terdiri dari
syahwat dan
amarah,
berikut tempat expresinya pada kedua tangan, kedua kaki, kedua mata,
kedua telinga dan semua anggota badan. Sedangkan tentara bagian dalam
terletak pada kepala, yaitu daya khayal, daya pikir, daya hafal, ingatan
dan bingung. Setiap kekuatan ini memiliki tugas khusus, jika salah
satunya lemah, maka kondisi manusia pun akan lemah dalam dua alam
(dunia-akhirat). Bagian yang menghimpun semua ini adalah hati dan ia
adalah pemimpinnya. Jika hati menyuruh lidah menyebutkan sesuatu, maka
ia akan menyebutkannya. Jika memerintahkan tangan untuk menyerang, maka
ia akan menyerang. Jika menyuruh kaki untuk melangkah, maka ia akan
melangkah. Demikian pula panca indera, hingga bisa menjaga diri untuk
agar tetap bisa menyimpan pahala untuk di akhirat, berfungsi secara
baik, menyempurnakan tugas amal dan merangkai butiran-butiran
kebahagiaan. Dan mereka semua tunduk dan patuh kepada perintah hati
sebagaimana para malaikat yang tunduk dan patuh pada perintah Tuhannya
dan tidak berani menentangnya.
PASAL ENAM
MENGETAHUI HATI DAN BALA TENTARANYA
Ketahuilah, seperti dikatakan dalam sebuah pepatah terkenal, hati
bagaikan sebuah kota, kedua tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh
sebagai lahannya, kekuatan syahwat sebagai walikotanya, amarah sebagai
daya dorongnya, hati sebagai rajanya dan akal sebagai menterinya. Raja
bertugas mengatur keseluruhan system agar kondisi kerajaan tetap stabil,
karena sang walikota atau syahwat adalah pembohong, lalai dan ambisius.
Demikian pula daya dorongnya yaitu amarah teramat jahat, pembunuh dan
perusak. Jika sejenak saja sang raja meninggalkan mereka dalam kondisi
itu, mereka akan menguasai kota dan merusaknya. Maka sang raja wajib
berkonsultasi pada sang menteri( Akal ) dan menjadikan sang walikota dan
bagian daya dorongnya di bawah pengawasan sang menteri. Jika ia
melakukan hal itu, maka kondisi kerajaan akan tetap stabil. Dan kota
akan berkembang. Hati juga berkonsultasi pada akal dan menjadikan
syahwat-amarah di bawah kekuasaannya sampai kondisi jiwa menjadi stabil
dan bisa mengantarkan pada unsur-unsur kebahagiaan, yaitu mengetahui
Hadirat Ilahi.
Seandainya akal berada di bawah kendali kekuasaan amarah dan syahwat,
maka jiwanya akan rusak dan hatinya tidak akan bahagia di akhirat
kelak.
PASAL TUJUH
PROSES CARA KERJA KOMPONEN DALAM TUBUH
Ketahuilah, bahwa syahwat dan amarah melayani nafsu. Dimana keduanya
senantiasa menarik-nariknya, terus mempertahankan urusan makan, minum
dan kawin sebagai fungsi indera. Kemudian jiwa memfungsikan indera
sebagai jaringan akal dan mata-matanya, yang dengannya ia mampu
menyaksikan kehadiran Allah Swt. Kemudian indera juga memfungsikan akal,
yaitu hati sebagai lentera dan lilin yang melalui cahayanya ia bisa
melihat Illahi. Dengan demikian, kepuasan perut dan kemaluannya menjadi
tak terpenuhi. Kemudian akal juga mempekerjakan hati, sebab hati
diciptakan untuk mengalami keindahan kehadiran-Nya. Siapa saja yang
mencurahkan segala kemampuanya dalam proses pekerjaan ini, maka ia
adalah hamba yang sebenarnya, yang terlahir dari rahim
al-hadrah al-ilahiyyah, sebagaimana firman-Nya, :
“Dan Aku tak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (Q.S.az-Zariyat [61]: 56)
Artinya, bahwa Kami telah menciptakan hati, mendudukanya sebagai raja
dan memberinya bala tentara. Kami juga telah menjadikan jiwa sebagai
kendaraannya hingga ia bisa berjalan dari alam yang penuh debu ke arah
alam atas yaitu
‘illiyin.
Jika berkeinginan melaksanakan anugerah nikmat ini, duduklah dalam
kerajaannya, jadikan kehadiran Tuhan sebagai kiblat dan tujuannya,
jadikan akhirat sebagai tanah air dan akhir keputusannya, demikian jiwa
sebagai kendaraannya, dunia sebagai rumah sementaranya, kedua tangan dan
kaki sebagai pembantunya, akal sebagai menterinya, syahwat sebagai
budaknya, amarah sebagai angkutannya dan indera sebagai mata-matanya.
Masing-masing bagian itu adalah gambaran dari setiap alam yang
mengumpulkan semua hal mengenai kondisi alam-alam lainnya.
Daya khayal di bagian muka kepala seperti seorang kapten yang
bertugas mengumpulkan semua informasi mata-mata. Daya hafal pada bagian
tengah kepala pemilik peta informasi yang bertugas mengumpulkan komponen
dari tangan sang kapten sampai ia ajukan kepada akal. Jika
informasi-informasi ini sampai pada sang menteri, baru ia akan lihat
kondisi kota sebagaimana mestinya.
Jika kamu melihat salah satu dari mereka membangkang, seperti syahwat
dan amarah, maka engkau harus berupaya keras menundukannya. Ini tidak
bermaksud untuk membunuhnya. Sebab kerajaan tidak akan bertahan tanpa
keduanya. Jika engkau mampu menundukanya, maka engkau adalah orang yang
berbahagia, yang telah melaksanakan perkara yang wajib dilakukan atas
limpahan anugerah nikmat. Wajib bagimu menghadiahkan sesuatu pada saat
itu, jika tidak, maka engkau tidak akan bahagia, dan dikenai siksa dan
diwajibkan bertaubat.
PASAL DELAPAN
AMARAH, NAFSU DAN ILMU
Ketahuilah puncak kebahagiaan yang sempurna dibangun atas tiga hal:
kekuatan amarah, kekuatan nafsu dan kekuatan ilmu.
Tiga hal ini harus dihimpun agar kekuatan syahwat tidak muncul dominan
dan justru akan merusak dan menghalalkan semua hal. Demikian juga
kekuatan amarah dibuat agar tidak menguasai dan menampakan kebodohan,
maka jika dominan yang akan terjadi hanya kerusakan. Jika kekuatan
tersebut normal dengan petunjuk ilmu maka keduanya akan menuju pada
hidayah. Jika amarah semakin menguat, maka akan mempercepat terjadinya
penyerangan dan pembunuhan, dan jika melemah, maka kecurigaan,
ketentraman dalam agama dan dunia akan hilang.
Namun jika disinergikan yang akan muncul adalah kesabaran,
keberanian, dan kearifan. Nafsu juga demikian, jika semakin memuncak,
maka yang muncul adalah kejelekan dan kejahatan, dan jika berkurang maka
akan menyebabkan kelemahan dan ketidakgairahan. Namun jika
disinergikan, yang ada adalah kesucian, kepuasan
dan sifat-sifat sejenis yang baik lainnya.
PASAL SEMBILAN
PRILAKU SETAN, BINATANG DAN MALAIKAT
Ketahuilah, bahwa hati dan bala tentaranya memiliki kondisi keadaan dan sifat-sifat yang sebagian diistilahkan dengan
budi pekerti buruk dan sebagian lain disebut
akhlak terpuji.
Budi pekerti terpuji akan mengantarkan kepada kebahagiaan, dan akhlak
buruk akan mengantarkan pada kehancuran dan siksa. Semua ini terjadi
dari empat jenis. Yaitu akhlak setan, akhlak binatang jinak, akhlak
binatang buas, dan akhlak malaikat. Perilaku jelek yaitu makan, minum,
tidur dan kawin adalah akhlak binatang jinak. Prilaku laku amarah
seperti pemukulan, pembunuhan dan pertikaian adalah akhlak binatang
buas. Keinginan-keinginan jiwa seperti makar, penipuan, kecurangan dan
sifat sejenis lain adalah akhlak setan. Terakhir, aktivitas berfikir
yang menghasilkan rahmat, ilmu dan kebaikan secara umum adalah akhlak
malaikat.
PASAL SEPULUH
ANJING, BABI, SETAN DAN MALAIKAT
Ketahuilah bahwa di dalam kulit manusia terdapat empat hal, anjing,
babi, setan dan malaikat. Anjing tercela pada segenap sifatnya dan tidak
dari bentuknya. Begitu pun setan dan malaikat, memiliki hal tercela
hanya pada sifat-sifatnya dan bukan pada bentuk atau tingkah lakunya.
Babi pun demikian, tercela dalam sifat- sifatnya tapi tidak pada bentuk
dan tingkah lakunya.
Manusia diperintahkan untuk menyngkap kebodohan dengan cahaya akal
agar terhindar dari segala macam fitnah. Seperti ditegaskan Rasulullah
Saw. :
“Tak seorang pun (dari manusia) kecuali memiliki setan, aku juga
memiliki setan. Sungguh Allah telah menjagaku dari setanku hingga aku
bisa menguasainya.”
Demikian nafsu dan amarah harusnya berada di bawah kendali akal,
hendaknya harus dijamin tidak akan melakukan sesuatu kecuali atas
perintahnya. Jika seseorang melakukan proses demikian, ia dibenarkan
berakhlak terpuji. Sifat ini adalah sifat malaikat dan merupakan benih
kebahagiaan. Namun jika melakukan hal sebaliknya, maka ia dikatakan
berakhlak tercela. Sifat ini adalah bagian dari sifat-sifat setan dan
merupakan benih dari timbulnya siksa. Dalam tidur ia akan melihat
dirinya, seakan berdiri terpasung menjadi budak anjing dan babi. Orang
ini seperti lelaki muslim yang membawa beberapa muslim lainnya dan
menawan mereka di penjara orang-orang kafir. Bagaimana perasaanmu jika
nanti pada hari kiamat sang raja, yaitu akal, tertawan di bawah kendali
nafsu dan amarah, yaitu anjing dan babi?.
PASAL SEBELAS
BELENGGU YANG MENGOTORI HATI
Ketahuilah bahwa manusia pada saat ini berbentuk anak Adam, kelak
kemudian saat makna-makna itu tersingkap, mereka pun keluar dalam
bentuk menyesuaikan dengan makna masing-masing. Mereka yang dominan
amarahnya, maka akan berdiri dalam bentuk anjing. Mereka yang dominan
nafsunya, maka akan berdiri dalam bentuk babi, sebab bentuk selalu
mengikuti makna-makna. Seorang yang tertidur akan melihat semua yang ada
dalam jiwanya.
Karena demikian halnya dimana isi jiwa manusia tercirikan dalam empat
hal dia atas, maka ia harus memeriksa setiap gerak-geriknya, diamnya
dan mengenali diri termasuk dari bagian mana dari yang empat itu.
Sifat-sifat itu ada dalam hati dan terus bertahan ada hingga hari
kiamat. Dan jika masih tersisa sepenggal kebaikan, maka itu adalah benih
kebahagiaan. Sebaliknya jika yang tersisa adalah sepenggal kejelekan,
maka ia pun merupakan benih dari siksa. Manusia tidak akan pernah
berhenti bergerak dan diam, hatinya bagaikan kaca. Akhlak tercela
bagaikan asap dan kegelapan, jika menyentuh hati, maka seketika ia
menggelapkan jalan menuju kebahagiaan. Akhlak terpuji bagaikan cahaya
dan pancarannya, jika mengenai pada hati maka ia akan membersihkannya
dari gelapnya kemaksiatan. Seperti sabda Rasulullah Saw.:
“ Ikutkanlah pada perbuatan jelek itu perbuatan baik yang akan menghapusnya.”
Dan hati bisa jadi terang dan gelap, semua tidak akan lolos kecuali mereka yang mendatangi Allah dengan hati yang pasrah.
PASAL DUA BELAS
UNSUR YANG MELEBIHKAN MANUSIA DARI BINATANG
Ketahuilah bahwa nafsu dan amarah yang terdapat bersama binatang
jinak juga terdapat pada anak Adam. Akan tetapi manusia diberi tambahan
lain sebagai bekal untuk memperoleh kemuliaan dan kesempurnaan yaitu
hati. Dengan hal tersebut, ia bisa mengetahui Allah dan keindahan
ciptaan-Nya. Dan dengan hal tersebut, manusia bisa menyelamatkan dirinya
dari kekuasaan nafsu dan amarah serta meraih sifat-sifat malaikat.
Dengan demikian, manusia diberi sifat-sifat binatang jinak dan buas,
yang semuanya ditundukan Allah untuk manusia. Hal ini sebagaimana yang
difirmankan Allah,:
”Dia telah menundukan untukmu apa yang ada di langit dan yang ada di bumi semuanya.” (Q.S. al-Jasyyah [45]: 13).
PASAL TIGA BELAS
PINTU-PINTU ILMU
Ketahuilah bahwa hati memiliki dua pintu ilmu, satu untuk
mimpi-mimpi, dan lainnya untuk ilmu sadar, yaitu pintu untuk ilmu
realita
(zahir). Saat manusia tertidur, pintu-pintu indera tertutup, terbukalah pintu batin dan disingkapkan realitas alam gaib dari alam
malakut dan
lawh Mahfuz,
seperti cahaya yang terang benderang. Untuk menyingkapnya dibutuhkan
semacam tafsir mimpi. Sedang ilmu yang dihasilkan dari realita
(zahir)
yang diduga oleh manusia akan memunculkan kesadaran diri, dan bahwa
keadaan sadar lebih utama, walaupun sebenarnya ia tidak bisa melihat
sesuatu pun dari alam gaib. Bagaimana pun sesuatu yang terlihat antara
keadaan sadar dan tidur tetap lebih utama sebagai pengetahuan daripada
apa yang terlihat melalui indera.
PASAL EMPAT BELAS
HATI BAGAIKAN CERMIN
Di samping itu engkau pun harus mengetahui bahwa hati seperti cermin,
Lauh Mahfuz pun demikian. Karena di dalamnya terdapat gambaran dari semua realitas
(mawjudat). Jika
engkau hadapkan cermin satu dengan lainnya, maka masing-masing gambar
pada setiap cermin akan saling memantulkan yang lainnya. Demikian pula
semua gambar pada
lawh Mahfuz, akan tampak terpantulkan dalam hati jika ia telah suci dari nafsu dunia. Jika masih disibukkan dengan nafu, maka alam
malakut akan tetap tertutup. Jika saat tidur manusia tidak terhubungkan dengan obyek indera, maka ia akan menyaksikan inti
(zawhar) alam
malakut dan akan terlihat sebagian gambar yang ada pada
Lawh Mahfuz.
Jika manusia menutup pintu indera hanya sekedarnya, maka ia hanya
memasuki dunia khayal. Karena itu ia melihat sesuatu yang masih
tertutupi pada bagian luarnya dan bukan melihat hakikat murni bagian
dalam yang tak tersingkapkan.
Jika hati telah mati ( terhindar dari belenggunya ) bersama si
pemiliknya, maka pada saat itu tidak ada yang namanya khayal, dan tidak
juga indera. Oleh karena itu, pada saat tersebut hati mampu melihat
dengan tanpa keraguan atau pun khayalan. Dan ketika itu, diucapkan
padanya:
“Maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Q.S. Qaaf [50]: 22).
PASAL LIMA BELAS
SEMUA HATI MANUSIA DIILHAMI
Ketahuilah bahwa tidak seorang pun dari anak Adam kecuali hatinya
telah dimasuki hembusan suci melalui jalan ilham. Dimana hal itu tidak
masuk melalui indera, akan tetapi masuk dalam hati tanpa tahu dari mana
asalnya. Sebab hati termasuk alam
malakut, dan indera tercipta untuk alam ini, yaitu alam
al-Mulk (alam kuasa). Karenanya indra menjadi penghalang jiwa dari menyaksikan alam
malakut manakala tidak tersucikan dari aktivitas indera.
PASAL ENAM BELAS
METODE PENYINGKAPAN ALAM MALAKUT
Ketahuilah jangan engkau kira ketersingkapan ini hanya terbuka pada
saat tidur dan mati saja, tapi ia pun terbuka pada saat sadar bagi
mereka yang ikhlas berjihad, ikhlas melakukan latihan
riyadah, dan menyelamatkan diri dari belenggu nafsu, amarah, akhlak tercela dan perbuatan buruk.
Jika ia duduk semedi di tempat yang sepi dan mengosongkan dirinya
dari aktifitas indera, kemudian membuka mata hati dan pendengaran
batiny. Menjalankan fungsi hatinya sebagai bagian dari alam malakut,
terus menerus menyebut kalimat
Allah, Allah, Allah, dengan
hatinya dan tidak dengan lidahnya sampai ia tidak mendapatkan informasi
dari dirinya dan alam sekitarnya sedikit pun, dan yang ia lihat hanyalah
Allah. Maka kekuatan itu akan terbuka, apa yang ia lihat di saat tidur,
ia bisa lakukan pada saat sadar, yang tampak adalah ruh para malaikat
dan para Nabi, gambar-gambar bagus nan indah dan mulia, saat itu
tersingkaplah kerajaan langit dan bumi. Ia bisa lihat semua yang tidak
bisa dijelaskan dan tak bisa digambarkan, sebagaimana sabda Rasul.:
“dibentangkan padaku bumi, seketika kulihat ujung barat dan timur.” Allah Swt. menjelaskan,:
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda
keagungan Kami ( yang terdapat ) di langit dan bumi.” (Q.S. al-An‘am
[6]: 75)
Karena semua ilmu para Nabi diperoleh melalui jalan ini dan bukan melalui jalan indera, seperti ditegaskan Allah Swt.:
“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (Q.S. al- Muzammil [73]: 8)
Artinya terputus dari segala sesuatu, penyucian diri dari segalanya
dan terus memohon kesempurnaan pada-Nya, ini adalah metode (jalan)
kaum
sufi zaman ini. Sedang metode pengajarannya adalah jalan para ulama.
Semua ini dihimpun dari jalan kenabian. Begitu juga ilmu para wali.
Sebab ilmu demikian itu tertanam di dalam lubuk hati mereka tanpa
melalui perantara, yaitu langsung dari Hadirat Illahi sebagai mana
firman-Nya:
“Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami
ajarkan kepadanya di antara ilmu-ilmu dari sisi Kami.” (Q.S. al-Kahfi
[18]: 65)
Metode jalan ini tidak akan dimengerti tanpa melalui latihan, dan
jika tidak dihasilkan dengan rasa, maka ia pun tak bisa dihasilkan
melalui pengajaran. Yang seharusnya dilakukan ialah mempercayainya
hingga kita bisa mendapatkan kebahagiaan mereka yang telah meraihnya,
dan ini adalah sebagian dari keajaiban hati. Siapa yang tidak melihat
hasilnya, ia tidak akan mempercayai, seperti firman-Nya.:
“Yang sebenarnya mereka dustakan apa yang mereka belum mengetahuinya
dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya.”
(Q.S. Yunus [10]: 39) dan firman-Nya:
“Dan ketika mereka tidak mendapat petunjuk dengannya (baca: Alquran)
maka mereka berkata: “ini adalah dusta yang lama.” (Q.S. al-Ahqaf [46]
:11).
PASAL TUJUH BELAS
MAKRIFAT ADALAH ANUGERAH BAGI SEMUA MANUSIA
Jangan engkau mengira semua ini khusus untuk para Nabi dan para wali
saja, sebab bahan dasar anak Adam dari asal penciptaannya memang untuk
tujuan ini. Seperti halnya unsur besi agar dibuat cermin yang bisa
digunakan untuk melihat gambar alam, kecuali yang berkarat dan
membutuhkan penyepuhan. Atau besi kering yang membutuhkan pengecatan
sebab sewaktu-waktu bisa patah. Demikian juga hati, jika nafsu dan
kemaksiatan menutupi dan membelenggunya, maka ia tidak akan mencapai
derajat ini. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw.
“Semua yang terlahir berada dalam fitrah (esensi) Islam”. Allah berfirman:
. “Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Benar (Engkau Tuhan
kami)”. (Q.S. al-‘Araf [7]: 172)
Begitu pun anak Adam, fitrahnya adalah mempercayai ketuhanan Allah, seperti dalam firman-Nya.
“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Q.S. ar-Rum [30]: 30). Para Nabi dan para Wali adalah anak Adam, Allah berfirman.:
“Katakanlah (Muhammad): bahwasannya aku hanyalah manusia seperti kamu”. (Q.S. Fusilat [41]: 6).
Setiap yang menanam pasti menuai, siapa saja yang berjalan, pasti
sampai, siapa yang memohon, pasti akan mendapatkan. Permohonan tidak
akan berhasil tanpa
mujahadah. Jika dua hal ini berlaku pada
seseorang, maka Allah telah berkehendak menganugerahinya kebahagiaan
dengan hukum azali hingga ia mencapai derajat ini.
PASAL DELAPAN BELAS
NIKMAT DAN KEBAHAGIAAN MANUSIA TERLETAK PADA MA‘RIFAH ALLAH
Ketahuilah bahwa segala sesuatu memiliki rasa bahagia, nikmat dan
kepuasan. Rasa nikmat akan diperoleh bila ia melakukan semua yang
diperintahkan oleh tabi‘atnya. Tabi‘at segala sesuatu adalah semua yang
tercipta untuknya. Kenikmatan mata pada gambar-gambar indah, kenikmatan
telinga pada bunyi-bunyi yang merdu, dan demikian pula semua anggota
badan. Kenikmatan hati hanya dirasakan ketika mengetahui Allah
(ma‘rifat Allah), sebab
ia diciptakan untuk melakukan hal itu. Semua yang tidak diketahui
manusia sebelumya, maka tatkala ia mengetahuinya maka ia akan
berbahagia, contohnya permainan catur, ketika mengetahui cara
memainkanya ia pun menjadi senang. Jika ia dijauhkan dari permainan itu,
maka ia tidak akan meninggalkanya dan tak akan sabar untuk kembali
memainkannya.
Begitu pula mereka yang telah sampai pada
ma‘rifat Allah. Ia
pun merasa senang dan tak sabar untuk menyaksikan-Nya, sebab kenikmatan
hati adalah makrifat. Setiap kali makrifat bartambah besar, maka nikmat
pun bertambah besar pula. Karenanya, ketika manusia mengetahui dan
berjumpa dengan sang menteri, maka ia akan senang, terlebih lagi jika
tahu dan berjumpa dengan sang raja, maka kebahagiaannya tentu lebih
besar lagi.
Tak ada satu wujud pun di alam ini yang lebih mulia dari Allah Swt..
Karena kemuliaan yang dimiliki semua hal timbul oleh sebab-Nya dan
dari-Nya. Semua keajaiban alam adalah karya-Nya, tak ada pengetahuan
(ma‘rifat)
yang lebih mulia selain pengetahuan tentang-Nya. Tak ada kenikmatan
yang melebihi nikmat makrifat-Nya. Tak ada pemandangan indah yang
melebihi pemandangan Hadirat-Nya. Semua nikmat dari nafsu duniawi
menempel pada jiwa, ia akan berakhir bersama kematian. Sedang nikmat
pengetahuan
(ma‘rifat) tentang ketuhanan tergantung pada hati,
ia tidak lenyap bersama kematian, sebab hati tidak akan hancur dan
bahkan kenikmatannya akan lebih banyak bertambah, cahayanya lebih besar,
karena ia telah keluar dari rahim kegelapan menuju alam cahaya.
PASAL SEMBILAN BELAS
BAHAN DASAR SARI PATI ANAK ADAM
Ketahuilah bahwa jiwa anak Adam disarikan dari alam, padanya terdapat
segala gambaran alam yang masih bisa kita temukan efek dan akarnya,
sebab tulang-belulang ini seperti pegunungan, dagingnya seperti debu,
bulu-bulunya bagaikan tumbuhan, kepalanya bagaikan langit, inderanya
seperti bintang, penjelasan mengenai hal ini sangatlah panjang. Demikian
bagian dalamnya pun menyimpan gambaran alam, sebab fungsi pencernaan
yang ada dalam lambung mirip dengan seorang ahli masak. Kekuatan yang
ada pada limpa sama dengan pembuat roti, kekuatan pada usus bagaikan
tukang cukur, kekuatan yang memutihkan susu dan memerahkan darah
bagaikan tukang sepuh, penjelasan mengenai hal ini cukup panjang. Yang
penting adalah hendaknya kamu mengetahui berapa banyak alam yang
tersimpan bersamamu, yang terus sibuk melayanimu, sedang engkau malah
mengabaikannya, dan mereka tak pernah beristirahat, engkau bahkan tak
mengenalnya dan tak bersyukur pada-Nya yang telah menganugerahkan semua
itu untukmu.
PASAL DUA PULUH
PENGETAHUAN TENTANG KOMPONEN BADAN DAN
MANFAAT-MANFAAT ILMU KIMIA
Ilmu ini sangatlah agung, kebanyakan manusia mengabaikannya, demikian
juga ilmu kedokteran. Setiap mereka yang ingin melihat dirinya dan
keajaiban Allah Swt. dalam dirinya, membutuhkan minimal tiga sifat dari
sifat-sifat ketuhanan.
Pertama, hendaknya mengetahui bahwa yang menciptakan
seseorang juga mampu membawanya kepada kesempurnaan dan bukannya
sebaliknya, Ia adalah Allah Swt. Tak satu pun perbuatan di dunia yang
lebih ajaib dari penciptaan manusia yang berasal dari air hina (mani)
dan pembentukan fisik dengan bentuk yang sangat menakjubkan, sebagaimana
firman-Nya.:
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur.” (Q.S. al-Insan [76]: 2).
Maka untuk mengembalikannya setelah mati, adalah lebih mudah lagi, sebab pengulangan selalu lebih mudah dari permulaan.
Kedua, pengetahuan tentang ilmu Allah Swt. bahwa ia
mencakupi segala sesuatu, sebab keajaiban dan keanehan ini tak mungkin
ada kecuali dengan kesempurnaan ilmu.
Ketiga, hendaknya engkau tahu bahwa keramahan-Nya,
rahmat-Nya dan perlindungan-Nya mengenai segala sesuatu, tak terbatas
disaat engkau melihat tumbuhan, hewan dan kandungan bumi, semua berada
dalam keluasan kuasa-Nya, bentuk yang baik dan warna yang indah.
PASAL DUA PULUH SATU
MANUSIA MERUPAKAN KUNCI MENGETAHUI SIFAT-SIFAT KETUHANAN DAN TERMASUK ILMU MULIA
Yaitu pengetahuan tentang karya-karya Illahi, pengetahuan tentang
keagungan dan kekuasaan Allah Swt., yang merupakan sari pati dari
pengetahuan hati. Ilmu ini begitu mulia sebab berbicara tentang karya
Illahi. Sebab jiwa seumpama kuda, akal sebagai penunggangnya dan
keduanya terhimpun dalam kalimat penunggang kuda (joki). Siapa yang tak
mengenal dirinya dan mengaku mengenal lainnya, maka ia seumpama seorang
lelaki pailitt yang tak memiliki makanan sedikit pun untuk dirinya namun
mengaku bisa menafkahi orang-orang miskin di kotanya.
PASAL DUA PULUH DUA
KESIMPULAN DAN WASIAT TERAHIR
Jika engkau mengetahui arti kemuliaan, kehormatan, kesempurnaan,
keindahan dan keagungan setelah engkau menyadari bahwa inti hati adalah
esensi yang paling mulia, yang semua itu telah dianugerahkan kepadamu
dan kelak akan ditarik kembali, dan engkau justeru tidak memintanya,
malah mengabaikan dan menghilangkannya, maka engkau akan sangat menyesal
pada hari kiamat. Berjuanglah untuk mendapatkannya, tinggalkanlah
segala kesibukan duniawi! Dan segala kemuliaan yang tidak tampak di
dunia, maka di akhirat kelak akan menjadi kebahagiaan, keabadian tanpa
kelenyapan, kekuasaan tanpa kelemahan, pengetahuan tanpa kebodohan,
keindahan sekaligus keagungan. Sedang hari ini, tak seorang pun yang
lebih lemah darinya, sebab ia termiskin dan berkurangan, namun kemuliaan
akan ia alami esok jika ia tancapkan pengetahuan tentang kimia
kebahagiaan ini dalam inti hatinya, hingga ia bisa menyelamatkan dirinya
dari perumpamaan binatang dan bisa mencapai derajat malaikat. Jika ia
kembali pada nafsu dunia, maka ia lebih memilih menjadi binatang pada
hari kiamat, karena sebenarnya ia kembali keasalnya, yaitu tanah. Dan ia
pun akan abadi dalam siksa.
Kami berlindung pada Allah Swt. dari semua itu. Kami meminta
pertolongan-Nya, sebab Ia sebaik-baik Pemelihara dan Penolong, dan rasa
syukur ini, untuk Allah Swt. Tuhan semesta alam. Semoga keselamatan
senantiasa dianugerahkan pada junjungan kita Muhammad Saw., dan keluarga
berikut para sahabatnya.
the END
Dikutip : Buku sufi tasauf gratis